Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

BREAKING! Jelang Pemilu Israel 27 Oktober, 5 Tokoh Oposisi Zionis Bentuk Koalisi Strategis Lengserkan Netanyahu

TEL AVIV : – Lima tokoh utama oposisi Zionis di Israel sepakat menjalin kerja sama strategis melalui penandatanganan pakta non-agresi guna mengakhiri masa pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Pemilihan Umum 27 Oktober mendatang.

5 tokoh utama oposisi Zionis di Israel sepakat jalin kerja sama strategis melalui penandatanganan pakta non-agresi (Foto: Al jazeera)

Langkah persatuan tersebut disepakati dalam pertemuan tertutup di kediaman Pemimpin Oposisi Yair Lapid di Tel Aviv, Jumat (16/10/2026). Pertemuan itu dihadiri oleh mantan Perdana Menteri Naftali Bennett (Partai Beyachad), mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Gadi Eisenkot* (Partai Yashar), Yair Golan (Partai Demokrat), serta Avigdor Liberman (Partai Yisrael Beiteinu).

Melalui pernyataan bersama seusai pertemuan, para pemimpin tersebut menegaskan komitmen untuk membentuk pemerintahan yang berasas kebangsaan dan berfokus pada pemulihan negara, meskipun terdapat perbedaan ideologi di antara mereka.

 "Kami sepakat untuk mengakhiri era Netanyahu dan membentuk pemerintahan yang fokus memulihkan Israel," demikian pernyataan bersama blok oposisi.

Tanpa Perubahan Substantif Isu Palestina

Kendati demikian, sejumlah pengamat internasional menilai bahwa koalisi oposisi ini cenderung membawa perubahan pada gaya kepemimpinan dibandingkan arah kebijakan fundamental.

Analis politik Israel dari King's College London, Ahron Bregman, mengamati bahwa mayoritas figur dominan dalam blok tersebut tetap memegang pandangan politik kanan.

"Mereka mewakili spektrum kanan yang tidak berencana mengubah pendekatan mendasar terhadap isu kemerdekaan Palestina," ujar Bregman. Ia menambahkan bahwa konstelasi politik umum di Israel saat ini masih sangat dipengaruhi oleh pandangan konservatif.

Peta Kepemimpinan Blok Oposisi:

• Gadi Eisenkot (Yashar): Mantan Panglima Militer Israel periode 2015–2019 ini mengusung platform pemerintahan profesional, kewajiban wajib militer bagi seluruh warga termasuk kelompok Yahudi Ultra-Ortodoks serta pembentukan komisi penyelidikan independen atas kegagalan intelijen 7 Oktober. Eisenkot secara tegas menolak keterlibatan partai-partai Arab dalam koalisi pemerintahan mendatang.

• Naftali Bennett & Yair Lapid (Beyachad):* Aliansi yang dibentuk pada April 2026 ini menempatkan Bennett sebagai pemimpin daftar dan Lapid di posisi kedua. Kedua figur ini mengutamakan pembentukan kabinet yang murni diisi oleh partai-partai Zionis dan secara terbuka mengkritik dampak diplomasi internasional dari kebijakan pemerintah saat ini.

• Avigdor Liberman (Yisrael Beiteinu):* Mengandalkan basis pemilih dari komunitas imigran berbahasa Rusia, Liberman mengambil posisi politik paling tegas di antara anggota blok. Ia menolak bekerja sama dengan kelompok Ultra-Ortodoks maupun partai Arab, serta konsisten mendorong pendekatan keamanan yang ketat.

 Yair Golan (Demokrat): Sebagai pimpinan partai hasil penggabungan faksi sayap kiri Buruh dan Meretz, Golan menjadi satu-satunya figur dalam aliansi yang membuka ruang dialog dengan faksi-faksi Palestina. Golan menekankan pentingnya menyelaraskan pencapaian militer dengan strategi diplomasi politik jangka panjang.

Pengamat politik dari University of Essex, Roi Zur, menilai bahwa terlepas dari perbedaan ideologis antara figur seperti Golan dan Liberman, pembentukan koalisi tanpa keterlibatan kedua faksi tersebut hampir tidak memungkinkan. Menurutnya, kesamaan pandangan terkait sekularisasi dan reformasi wajib militer menjadi perekat utama di antara faksi oposisi tersebut.

Pemilu 27 Oktober 2026 diprediksi akan menjadi pemilu paling menentukan bagi masa depan politik Israel pasca-perang.(*)

Hide Ads Show Ads