Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Dolar AS Tembus Rp18.080, Analis Ingatkan Guncangan Ganda Minyak dan Pangan Tekan Fiskal RI

Jakarta : Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berlanjut hingga penutupan perdagangan , 23 Oktober 2026.(24/10/26).
Dolar AS Tembus Rp18.080, Analis Ingatkan Guncangan Ganda Minyak dan Pangan Tekan Fiskal RI

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,11 persen atau 20 poin ke posisi Rp18.080 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah terus tertekan imbas eskalasi ketegangan di Timur Tengah, utamanya antara kelompok Houthi Yaman dengan Arab Saudi.

"Eskalasi itu kembali memicu kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jumat, 23 Oktober 2026.

Di Libya, sebuah katup pipa minyak yang menghubungkan ladang minyak Hamada dan Tahara ke pelabuhan Zawiya telah ditutup.

"Penutupan itu menyebabkan penurunan produksi di kedua ladang minyak tersebut," ucap Ibrahim. Gangguan pada pasokan berisiko terhadap harga minyak mentah dunia.

Sementara itu, Rusia menyatakan siap untuk melanjutkan kembali perundingan dengan Ukraina yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Pernyataan Rusia itu mencuat di tengah pertemuan Presiden Vladimir Putin dan utusan AS, Steve Witkoff, di St. Petersburg.

Jika terealisasi, perundingan antara Rusia dan Ukraina akan menjadi perundingan pertama. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, berharap perundingan tersebut dapat terlaksana pada awal November.

Dari sisi ekonomi, data klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir pada 17 Oktober, lebih baik dari perkiraan. Klaim pengangguran tercatat sebanyak 194 ribu, di bawah estimasi maupun angka sebelumnya sebesar 200 ribu.

"Klaim pengangguran tersebut sekaligus mencapai level terendah dalam hampir 57 tahun terakhir," ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati tekanan fiskal yang mungkin dialami Indonesia.

"Kombinasi antara harga minyak yang tinggi dan lonjakan harga pangan menimbulkan guncangan ganda. Dua hal itu secara langsung menekan ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional," katanya.

Pemerintah, tambah Ibrahim, dihadapkan pada pilihan sulit. Pilihan menahan harga energi domestik berisiko memperlebar defisit APBN.

Pilihan menyesuaikan harga energi domestik akan berdampak terhadap inflasi sehingga akan memberatkan masyarakat.

"Kondisi itulah yang berdampak terhadap tekanan nilai tukar," ucap Ibrahim.

Pembiayaan utang karena tingginya impor energi meningkatkan kebutuhan devisa dolar AS, sehingga menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan mata uang berisiko memperbesar biaya pembayaran imbal hasil (yield) dan pokok utang luar negeri.

"Daya beli masyarakat juga menurun, terutama kelompok masyarakat menengah ke bawah. Kelompok yang porsi pengeluarannya bertumpu pada kebutuhan dasar," ujar Ibrahim menutup analisisnya.(*)

Hide Ads Show Ads