Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Harga Minyak Mendekati US$120 per Barel, Tekanan Inflasi Global Kian Ketat

KARAWANG - Pasar energi internasional kembali menghadapi guncangan berat menyusul lonjakan harga minyak dunia yang bergerak mendekati level US$120 per barel. Eskalasi konflik militer yang meluas serta gangguan pada jalur distribusi utama memicu respons ketat dari para pelaku pasar global.

Tingginya biaya energi dan biaya transportasi di kanada [File: Carlos Osorio/Reuters].

Berdasarkan data perdagangan Sabtu (31/10/2026), kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$2,12 atau 2,08 persen ke level US$104,12 per barel. Jika dikonversikan dengan rata-rata kurs tengah US$1 senilai Rp18.133, nilai tersebut setara sekitar Rp1.888.016 per barel. Secara mingguan, harga WTI naik 0,82 persen sekaligus memperpanjang tren penguatan selama empat pekan berturut-turut.

Tekanan harga energi yang masif ini berpotensi mengulang pola kebijakan moneter ketat di berbagai negara, sebagaimana Bank of Canada sebelumnya menaikkan suku bunga acuan sebesar seperempat poin guna meredam laju inflasi akibat mahalnya harga energi dunia.

Kekhawatiran terhadap rantai pasok global semakin memuncak setelah sebuah kapal tanker di perairan strategis Selat Hormuz dilaporkan mengalami serangan perangkat peledak yang dipasang dari kapal kecil. Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) mengonfirmasi insiden keamanan maritim tersebut pada Jumat (30/10/2026).

Menanggapi situasi yang memanas di jalur perdagangan minyak utama dunia tersebut, Senior Vice President of Trading BOK Financial, Dennis Kissler menegaskan bahwa pelaku pasar kini memusatkan perhatian penuh pada kepastian arus pengiriman serta potensi perluasan konflik bersenjata.

"Pelaku pasar akan terus mencermati arus pengiriman minyak dari Timur Tengah serta potensi eskalasi konflik oleh pasukan AS dan sekutunya," ujar Dennis Kissler.

Para pengamat menilai volatilitas tinggi di sektor energi akan terus berlanjut seiring tingginya ketidakpastian geopolitik global yang membayangi stabilitas ekonomi internasional.(*)

Hide Ads Show Ads