Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Kisah Pilu Perempuan Karawang: Terjerat Dunia Prostitusi Akibat Hyperseksual, Butuh Pendampingan Bukan Penghakima

Karawang :Di balik gemerlap kehidupan kota, ada kisah pilu yang jarang terungkap. Seorang perempuan asal Karawang, sebut saja namanya *Mawar (nama samaran, 26 tahun)*, harus berjuang melawan kondisi yang tidak banyak dipahami orang: dorongan seksual berlebih atau dalam istilah medis dikenal sebagai _hypersexual disorder_ / perilaku seksual kompulsif.(3/10/26).
Makna visual

Perempuan duduk memeluk lutut dengan pikiran kusut = menggambarkan beban psikologis hyperseksual, bukan adegan seksual

- Tangan terulur dari pintu bercahaya = simbol bantuan profesional & dukungan keluarga

- Tulisan bawah _Mental Health Awareness - You Are Not Alone_ = pesan edukasi, anti-stigma


Kepada Pelita Karawang, Mawar mengaku kondisinya berawal sejak remaja. Ia merasakan dorongan yang sulit dikendalikan, yang mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hingga hubungan sosial.

"Awalnya saya pikir ini normal. Tapi lama-lama saya merasa lelah, malu, dan tidak bisa mengontrol diri. Saya merasa bersalah terus," ujar Mawar dengan suara lirih. Identitasnya kami sembunyikan untuk melindungi privasi dan proses pemulihannya.

Bukan Sekadar Moral, Tapi Isu Kesehatan Mental

Psikolog klinis menjelaskan, hyperseksual bukanlah sekadar perilaku moral, melainkan kondisi psikologis yang memerlukan penanganan profesional. Penderitanya sering kali mengalami kecemasan, depresi, rasa bersalah yang mendalam, dan kesepian.

Karena kurangnya pemahaman dan rasa malu untuk bercerita, banyak penderita yang justru mencari pelarian ke tempat yang salah dan akhirnya dimanfaatkan oleh oknum yang mengeksploitasi kerentanannya untuk masuk ke dunia prostitusi.

"Saya masuk ke dunia itu bukan karena ekonomi. Saya seperti tidak punya kendali. Setelah itu saya menyesal, tapi lingkaran itu terus berulang," kata Mawar.

Butuh Rangkulan, Bukan Stigma

Kisah Mawar menjadi cermin bahwa kasus seperti ini tidak bisa hanya dilihat dengan kacamata hukum atau moral. Dibutuhkan pendekatan kesehatan mental, dukungan keluarga, dan pendampingan dari tenaga profesional.

Saat ini, Mawar mengaku tengah berupaya untuk bangkit dan mencari bantuan konseling untuk mengendalikan kondisinya. Ia berharap kisahnya bisa menjadi pelajaran agar masyarakat tidak mudah menghakimi.

Bagi warga yang mengalami atau memiliki keluarga dengan kondisi serupa, disarankan untuk segera berkonsultasi ke psikolog, psikiater di Puskesmas, RSUD Karawang, atau layanan konseling profesional terdekat. Gangguan perilaku seksual kompulsif bisa ditangani dengan terapi dan pendampingan yang tepat.

_Catatan Redaksi: Nama, usia, dan detail lokasi narasumber telah disamarkan untuk melindungi privasi dan sesuai kode etik jurnalistik. Artikel ini bertujuan untuk edukasi kesehatan mental dan pencegahan eksploitasi.(*)

Hide Ads Show Ads