Nilai Tukar Rupiah Belum Beranjak dari Rp 18.000 per Dolar AS, Ditutup Turun 89 Poin ke Rp 18.027 — Ini Penyebabnya
Karawang: Nilai tukar rupiah belum beranjak dari level Rp 18.000 per dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,50 persen atau 89 poin menjadi Rp 18.027 per dolar AS.
Pelemahan ini membuat rupiah masih berada di zona merah dan menjadi perhatian pelaku pasar. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi di tengah sentimen global yang belum kondusif dan dinamika pasar modal domestik.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mencermati perkembangan konflik Timur Tengah sebagai faktor utama pelemahan rupiah. Ketegangan geopolitik yang belum mereda membuat investor global cenderung menghindari aset berisiko termasuk mata uang negara berkembang.
Di sisi lain, pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk mencabut sanksi terhadap kapal-kapal pengangkut minyak. Yaitu kapal-kapal yang disebut sebagai armada bayangan yang mengangkut minyak dari Rusia, Iran dan Venezuela. Langkah pemerintahan Trump itu untuk menurunkan tarif pengiriman global yang saat ini mencapai di rekor tertinggi, kata Ibrahim dalam analisisnya, Jumat, 16 Oktober 2026.
Sementara itu, eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman berlanjut. Serangkaian serangan baru terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut, membuat harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi. Kondisi ini menambah tekanan inflasi global dan memperkuat dolar AS sebagai safe haven.
Dari sisi kebijakan moneter AS, sejumlah pejabat The Fed menyatakan bahwa kenaikan suku bunga dalam waktu dekat mungkin belum diperlukan. Hal itu disampaikan Presiden The Fed San Francisco, Mary Daly, dan Gubernur The Fed Michelle Bowman.
Para investor saat ini menantikan komentar dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok. Pernyataan Warsh dapat menjadi petunjuk terkait arah kebijakan suku bunga menjelang pertemuan The Fed akhir bulan ini. Jika The Fed bersikap hawkish, dolar berpotensi semakin perkasa dan rupiah semakin tertekan.
Faktor Domestik: MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Modal Indonesia
Di dalam negeri, sentimen negatif datang dari MSCI yang mengusulkan penurunan status pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market. Usulan ini didasari oleh berlanjutnya kekhawatiran terkait tata kelola serta dugaan adanya praktik perdagangan terkoordinasi.
"MSCI menyoroti lemahnya penegakan aturan dan disfungsi pasar," ucap Ibrahim. Merespons pengumuman MSCI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan komitmennya untuk terus melakukan perbaikan di pasar modal Indonesia.
Goldman Sachs, menurut Ibrahim, memperkirakan penurunan status tersebut dapat memicu arus keluar modal dalam jumlah besar. Jumlah arus keluar modal diperkirakan mencapai USD 13 miliar atau setara Rp 234 triliun. Jika itu terjadi, tekanan terhadap rupiah dan IHSG akan semakin berat.
Di sisi lain, dalam pernyataan tertulisnya hari ini, Bank Indonesia (BI) menekankan kembali komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi pasar tetap dilakukan di pasar valas luar negeri, pasar spot dan pasar valas dalam negeri. BI menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga rupiah tetap stabil sesuai fundamentalnya.(*)
