Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Pemerintah Didesak Tertibkan Facebook, Grup Jasa Esek-esek dan Konten Asusila Merajalela

Karawang - Desakan agar pemerintah menertibkan platform media sosial Facebook semakin keras. Pasalnya, selain masih maraknya video kekerasan yang lolos, Facebook kini disinyalir menjadi sarang grup-grup penjual jasa kepuasan seks hingga konten cerita dan video wanita yang jauh dari kata layak untuk dikonsumsi, terutama oleh anak-anak.(25/10/26).

Pemerintah Didesak Tertibkan Facebook, Grup Jasa Esek-esek dan Konten Asusila Merajalela

Kondisi ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Platform yang seharusnya menjadi ruang interaksi positif justru dibiarkan menjadi lapak prostitusi terselubung dan penyebaran konten asusila secara vulgar.

Seorang warga Karawang yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, dengan mudahnya ia menemukan grup dengan kedok komunitas yang terang-terangan menawarkan jasa esek-esek.

"Parah, Kang. Buka Facebook isinya grup jual jasa kepuasan seks. Foto-foto wanita tidak senonoh, cerita-cerita jorok, video yang tidak pantas. Ini sangat merusak, anak-anak kita main Facebook juga, bisa lihat itu semua. Pemerintah harus tegas," tegas warga Karawang tersebut kepada awak media, Sabtu (25/10/2026).

Ia menilai pembiaran ini adalah bentuk kelalaian negara dalam melindungi moral generasi bangsa. Jika konten radikal dan kekerasan saja masih bisa lolos, apalagi konten pornografi yang kini semakin terang-terangan.

"Jangan hanya diam. Kalau pemerintah bisa blokir situs judi dan porno, kenapa grup Facebook seperti ini dibiarkan hidup bertahun-tahun? Ada apa? Kominfo harus turun, jangan tutup mata," tambahnya dengan nada geram.

Warga mendesak Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk tidak hanya memberikan imbauan, melainkan melakukan tindakan nyata berupa pemblokiran massal terhadap grup-grup asusila tersebut dan memberikan sanksi tegas kepada Meta selaku pengelola Facebook di Indonesia.

Pemerintah dituntut hadir. Jangan sampai ruang digital Indonesia menjadi hutan bebas tanpa aturan, di mana mucikari dan pelaku industri esek-esek bebas berjualan, sementara anak-anak menjadi korban paparan konten merusak moral.

Sampai kapan Facebook dibiarkan menjadi sarang maksiat digital?  (*)

Hide Ads Show Ads