WASPADA! Serangan Fajar Gentayangan Jelang Pilkades di Jabar, Warga Karawang: Amplop Rp500 Ribu Dibagi Tengah Malam, Desa Mau Dibawa Kemana?
Karawang : Jelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak yang akan digelar di sejumlah daerah di Jawa Barat, termasuk di Kabupaten Karawang, fenomena lama kembali muncul ke permukaan: serangan fajar dan politik amplop.(21/10/26).
Bukan rahasia lagi. Dari ujung Karawang sampai pelosok Jabar, warga mulai bercerita. Tengah malam ada yang ketuk pintu. Pagi buta ada yang bagi-bagi sembako. Ada yang diselipkan amplop putih berisi Rp50 ribu, Rp100 ribu, bahkan lebih, dengan pesan singkat: _“Jangan lupa nanti coblos ya…”_
Fenomena ini hampir merata terjadi di Jabar. Modusnya sama, hanya bungkusnya beda. Ada yang pakai amplop, ada yang pakai paket sembako, ada yang pakai voucher, ada pula yang berkedok bantuan, arisan, hingga sumbangan lainnya.
Seperti dalam poster viral yang beredar ini: “HANCURNYA SUATU DESA KETIKA MASYARAKATNYA LEBIH MEMILIH AMPLOP DARIPADA KUALITAS CALON PEMIMPINNYA” , kalimat itu menampar keras.
Desa Tidak Butuh Janji, Tapi Bukti
Seorang tokoh masyarakat Karawang yang enggan disebutkan namanya mengatakan, Pilkades saat ini sudah bergeser dari adu gagasan menjadi adu amplop.
"Dulu Cakades adu visi misi, sekarang adu tebal amplop. Yang punya duit banyak yang menang, bukan yang punya kualitas. Warga juga kadang tergiur, ambil amplopnya tapi desanya yang hancur 6 tahun ke depan," ujarnya.
Praktik serangan fajar ini sangat berbahaya. Calon yang menang karena membeli suara, pasti akan berpikir bagaimana cara balik modal saat menjabat. Akhirnya, dana desa, program bantuan, dan pembangunan jadi taruhannya. Yang rugi siapa? Warga sendiri.
Amplop Rp100 Ribu, Masa Depan Desa 6 Tahun Digadaikan?
Di beberapa desa di Karawang, informasi yang dihimpun Pelita Karawang, satu suara dihargai bervariasi. Ada yang Rp50 ribu, Rp100 ribu, sampai Rp500 ribu tergantung gengsi pertarungan.
Padahal, jika dihitung, Rp100 ribu untuk 6 tahun kepemimpinan itu hanya sekitar Rp46 per hari. Murah sekali harga masa depan desa.
Ketua Panitia Pilkades di salah satu desa di Kabuoaten Karawang mengaku sudah mensosialisasikan larangan politik uang, namun sulit diawasi.
"Kami sudah ingatkan semua Cakades, dilarang money politik. Tapi pengawasan di lapangan terbatas, apalagi serangannya malam hari, subuh, jelang fajar. Dan itu kuncinya kesadaran warga sendiri," katanya.
Mari Memilih Cerdas!
Poster ini ditutup dengan ajakan keras: MASA DEPAN DESA DI TANGAN MASYARAKATNYA. DESA TAK BUTUH JANJI, TAPI BUKTI.
Pilkades bukan sekadar pesta demokrasi desa. Ini soal menentukan siapa yang akan mengelola miliaran rupiah Dana Desa, siapa yang akan menentukan jalan desa mulus atau berlubang, siapa yang akan adil membagi bantuan atau tidak.
Jika hari ini kita tergiur amplop Rp500 ribu, jangan salahkan siapa-siapa jika 6 tahun ke depan desa kita jalan di tempat, tertinggal, dan hancur.
Pertanyaannya sekarang: Di desa kamu, sudah ada yang bagi-bagi amplop?
Tulis di kolom komentar, tapi jangan sebut nama calon ya, cukup ceritakan modusnya agar warga lain waspada. (Red) .
