Akibat Pandemi Covid-19 & Korupsi, Garudra Indonesia Bangkrut?

Pemerintah menyatakan, secara teknis, Garuda Indonesia telah bangkrut. Sebab, Garuda Indonesia sudah tidak mampu membayar segala kewajibannya.

"Dalam kondisi ini dalam istilah perbankan sudah technically bankrupt, tapi legally belum, ini yang sekarang saat ini kita sedang upayakan bagaimana keluar dari posisi ini," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (9/11).

Beban keuangan Garuda Indonesia bahkan mencetak sejarah. Mencapai USD 2,8 miliar atau setara Rp 39 triliun (asumsi Rp 14.227 per USD). Rekor sebelumnya dipegang oleh Jiwasraya dengan beban keuangan mencapai Rp 37 triliun.

"Jadi ini rekor kalau dulu dipegang Jiwasraya sekarang sudah disalip Garuda," katanya.

Sebagai informasi, pada kasus Jiwasraya, Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Hexana Tri Sasongko menyebut total kerugian perseroan mencapai Rp 37 triliun akibat kasus gagal bayar. Kerugian tersebut membuat negara memutuskan menanggung sebagian.

Di menambahkan, pemberian penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp22 triliun diutamakan untuk program penyelamatan Jiwasraya. Sehingga dana tersebut bisa menyelesaikan semua masalah dan menyelesaikan semua kewajiban pembayaran polis kepada para nasabah.

"Manajemen baru dibantu konsultan independen telah menghitung kebutuhan dana yang diperlukan untuk penyelamatan pemegang polis," ucapnya.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II, Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, permasalahan Garuda Indonesia saat ini disebabkan dua faktor. Pertama, pandemi. Kedua, korupsi.

"Saya sering ditanya Garuda ini kinerja turun karena apa, karena korupsi atau karena covid, ya karena dua-dua nya. Dua-duanya membuat kondisi Garuda saat ini jadi sedang tidak baik," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (9/11).

Pada kesempatan tersebut, dia juga menuturkan bahwa pihaknya sulit memprediksi cashflow Garuda Indonesia ke depannya. Ini karena adanya pengetatan mobilitas yang diberlakukan sehingga mempengaruhi kinerja maskapai.

"Ini jadi situasi sulit, di satu sisi memiliki cost structure yang tinggi, tapi di sisi lain pendapatannya terus tergerus," katanya. (***)

0 Komentar

X
X