*GfOoTUz6TpM6Tfr9TUYpTpC6BY==*

Muhaimin Prihatin Guru Ngaji Berhonor Rp20 Ribu, Mahfud MD Inginkan Lulusan S1 Jadi Intelektual Bermoral

Cawapres nomor urut 1 Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menyoroti, kesejahteraan guru di Indonesia. Cak Imin merasa sedih, pasca mendapat informasi adanya guru ngaji yang mendapat honor Rp20 ribu per bulan.(10/12/23).

Foto : Mahpud n Muhamin

"Terutama Pendidikan keagamaan, banyak guru-guru agama, Madrasah, TPI, tidak mendapat penghasilan sama sekali. Ada yang mendapatkan gaji Rp20 ribu sebulan," kata Cak Imin saat silaturahmi ulama, tokoh masyarakat, di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Jumat (8/12/2023).

Jika terpilih pada Pilpres 2024, Cak Imin bersama Capres Anies Baswedan memastikan, kesejahteraan guru bakal ditingkatkan. Gaji layak harus diberikan, kepada SDM guru-guru berkualitas.

"Insya Allah, di bawah kepemimpinan Anies-Muhaimin kesejahteraan guru meningkat, termasuk guru agama kita. Guru kita telah membangun mental kita," ucap Ketua Umum PKB itu.

Lanjutnya, Cak Imin membeberkan, guru berkontribusi besar dalam perkembangan dan memajukan bangsa Indonesia. Karena, pembentukan SDM berkualitas dan unggul ada di tangan pahlawan tanpa jasa itu.

"Guru kita telah membentuk anak-anak memiliki tanggungjawab. Berkomitmen kepada umat, masyarakat, dan bangsa," ujar Cak Imin.

Lanjutnya, Cak Imin menuturkan, pembangunan SDM di Indonesia ini, dimulai dari guru. "Guru akan menjadi andalan pembangunan pemerintah dan bangsa Indonesia,” kata Cak Imin.

Cawapres nomor urut 3 Mahfud MD mengatakan, lulusan S1 harus menjadi manusia intelektual yang bermoral. Karena, ia menilai, ijazah dan ilmu belum tentu membuat lulusan S1 menjadi seorang yang intelektual.

"Sarjana itu ijazah, skill ada, tapi belum menggambarkan moralitas. Intelektual itu menggambarkan watak pendidikan bermoral," kata Mahfud MD saat menghadiri acara Sidang Terbuka Senat Wisuda Ke-40 Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Hotel Harris, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (9/12/2023).

Mahfud pun menyinggung, banyaknya koruptor yang merupakan lulusan sarjana. Dari data yang diterimanya, dari 1.250 koruptor, 84 persen diantaranya sarjana.

"Bahkan ada yang profesor, pelaku korupsi ini jelas tidak intelek dan tak punya moralitas dan integritas. Yakni, dalam bertanggung jawab terhadap masyarakat," ucap Mahfud MD.

Oleh sebab itu, ia berharap, para wisudawan bukan hanya mendapat gelar sarjana, tetapi juga intelektual. Punya tanggung jawab moral memajukan bangsa dan negara, sesuai konstitusi mencerdaskan kehidupan bangsa.

"Orang yang ilmunya dalam, pasti punya moral dan integritas, karena dia selalu beriman kepada Allah SWT. Tidak melakukan tindakan destruktif, kalau di pemerintahan, bersih dari korupsi dan intrik politik yang merugikan masyarakat dan bangsa," ujar Mahfud.(*)

Komentar0