Cabai Rawit Sudah Turun, Masih di Atas HAP
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga cabai rawit nasional hingga pekan kedua Januari 2026 masih berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP). Rata-rata harga cabai rawit tercatat sekitar Rp61.695 per kilogram.
Meski masih tinggi, secara bulanan harga cabai rawit turun 7,63 persen dibandingkan Desember 2025. Pada Desember 2025 cabai sempat berada di Rp66.794 per kilogram.
"Kemudian untuk cabai rawit, ini dalam 2 minggu terakhir, meskipun harganya masih di atas harga acuan. Tapi secara rata-rata, jika dibandingkan dengan minggu lalu, sudah mengalami penurunan, sedikit gitu ya," ucap Direktur Statistik Harga BPS, Windhiarso Putranto seperti dikutip dalam YouTube Kemendagri, Rabu (14/1/2026).
BPS mencatat batas bawah HAP konsumen cabai rawit sebesar Rp40.000 per kilogram, sementara batas atasnya Rp57.000 per kilogram. Dengan demikian, harga cabai rawit saat ini masih melampaui batas atas acuan pemerintah.
Secara spasial, 46,94 persen wilayah Indonesia mengalami penurunan Indeks Perubahan Harga (IPH) cabai rawit dibandingkan Desember 2025. Namun, masih terdapat sejumlah wilayah yang mencatat kenaikan harga.
Jumlah kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan IPH cabai rawit terus menyusut. Hingga pekan kedua Januari 2026, tercatat 122 daerah masih mengalami kenaikan harga.
Pada sisi ekstrem harga, BPS mencatat harga tertinggi cabai rawit mencapai Rp200.000 per kilogram di Kabupaten Nduga. Sementara harga terendah tercatat sekitar Rp21.852 per kilogram.
Windhiarso menyatakan pemantauan IPH digunakan untuk membaca dinamika harga cabai rawit secara spasial dan temporal. Data ini menjadi dasar evaluasi stabilitas harga pangan nasional.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai potensi lonjakan harga menjelang Ramadan. Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi Tohir meminta pemerintah daerah memperketat pemantauan pasokan.
“Masing-masing daerah tolong cek, turun ke lapangan. Tanyakan sumber barangnya dari mana dan kesulitannya apa,” kata Tomsi.
Ia mengingatkan lonjakan harga pangan kerap terjadi menjelang Ramadan dan harus diantisipasi sejak satu bulan sebelumnya. “Kita belajar dari sejarah, yang biasanya naik itu cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, ikan segar, telur, hingga bensin,” katanya.
Tomsi menegaskan pemerintah pusat dan daerah harus menjaga komoditas strategis tersebut agar lonjakan harga tidak kembali berulang. “Ini yang betul-betul harus kita jaga,” ucapnya (*)
