Kerahkan 2000 Personil, Pencarian Korban Longsor Cisarua Dilanjutkan
Bandung : Tim gabungan menyisir lima sektor evakuasi setelah operasi pencarian sempat terhenti akibat cuaca buruk dan kabut tebal.
![]() |
| Anjing pelacak atau K9 diterjunkan ke lolasi longsor di Bandung Barat untuk mencari korban (Foto: Basarnas) |
Operasi pencarian dan penyelamatan korban tanah longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, memasuki hari keenam pada Kamis 29 Januari 2026.
Ribuan personel dikerahkan untuk menyisir material longsoran setelah cuaca ekstrem sempat memaksa penghentian aktivitas evakuasi pada hari sebelumnya.
Sebanyak 2.000 personel dari tim gabungan memulai operasi sejak pukul 07.00 WIB melalui pembagian lima zona strategis, yakni sektor A1, A2, A3, B1, dan B2.
Langkah pembagian wilayah ini diambil guna memperluas cakupan pencarian dan memastikan setiap titik reruntuhan diperiksa secara mendalam.
Berdasarkan laporan terkini hingga Rabu, 28 Januari 2026 petang, tim SAR telah mengevakuasi total 53 kantong jenazah dari lokasi bencana. Melansir data resmi dari tim Disaster Victim Identification (DVI), sebanyak 37 jenazah telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga.
Tantangan Medan dan Cuaca
Operasi kemanusiaan ini menghadapi kendala besar berupa ketidakstabilan struktur tanah dan perubahan cuaca yang fluktuatif. Otoritas setempat menekankan bahwa keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama di tengah risiko longsor susulan.
"Jika hujan turun, seluruh aktivitas evakuasi akan segera dihentikan demi memitigasi risiko bagi para petugas di lapangan," demikian keterangan yang dihimpun dari laporan situasi di lokasi kejadian.
Selain ancaman hujan, kabut tebal yang kerap menyelimuti area kaki gunung menjadi tantangan teknis bagi tim SAR.
Jarak pandang yang terbatas menyulitkan petugas untuk memantau pergerakan tanah dari bagian puncak atau mahkota longsor, yang sangat krusial dalam prosedur keselamatan kerja di zona bencana.
Fokus Pencarian
Pemerintah daerah bersama tim gabungan saat ini memfokuskan upaya pada penemuan sisa korban yang masih dilaporkan hilang.
Lokasi geografis yang ekstrem di kaki gunung menuntut mobilitas tinggi dari setiap kelompok kerja, agar proses evakuasi ke titik aman dapat dilakukan secara cepat jika kondisi alam memburuk.
Tim di lapangan berharap kondisi atmosfer tetap stabil hingga sore hari agar proses penyisiran material tanah dapat dilakukan secara maksimal, sekaligus memberikan kepastian bagi keluarga korban yang masih menunggu hasil pencarian.(*)
