Korban Jiwa Protes Iran Tembus 2.000 Orang
Iran : Lembaga HAM laporkan lonjakan korban jiwa di tengah ancaman sanksi dan intervensi Amerika Serikat.
Gelombang unjuk rasa yang melanda Iran dilaporkan telah memakan korban jiwa dalam skala yang signifikan.
Lembaga pembela Hak Asasi Manusia (HAM) menyatakan lebih dari 2.000 orang tewas menyusul tindakan keras dari aparat keamanan, sementara ketegangan diplomatik antara Teheran dan Washington kini berada di titik kritis.
Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebuah organisasi yang berbasis di Amerika Serikat, mengonfirmasi setidaknya 2.003 kematian selama 17 hari protes berlangsung.
Data tersebut mencakup 1.850 pengunjuk rasa, 135 personel keamanan, sembilan warga sipil, serta sembilan anak-anak.
Angka ini muncul meski pemerintah Iran melakukan pemutusan akses internet secara total di hampir seluruh wilayah.
"Kami merasa ngeri, namun kami meyakini angka ini masih merupakan estimasi konservatif," ujar Wakil Direktur HRANA, Skylar Thompson, kepada Associated Press. Ia menambahkan bahwa pihaknya masih memverifikasi laporan tambahan mengenai 779 kematian lainnya.
Respons Washington dan Tuduhan Teheran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan peringatan keras melalui platform Truth Social. Trump menyatakan bahwa otoritas Iran akan "membayar harga yang mahal" dan menjanjikan bantuan kepada para pengunjuk rasa.
"Pembunuhan ini tampak signifikan, meski kita belum mengetahui angka pastinya. Begitu kami mendapatkan data tersebut, kami akan bertindak sebagaimana mestinya," ujar Trump kepada wartawan saat kembali ke Gedung Putih.
Di sisi lain, pemerintah Iran memberikan narasi yang berbeda. Seorang pejabat Iran kepada Reuters membenarkan angka korban mencapai 2.000 jiwa, namun ia menuding "kelompok teroris" sebagai dalang di balik pertumpahan darah tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan dalam wawancara dengan Al Jazeera bahwa pemerintah telah berdialog dengan pengunjuk rasa, namun terpaksa bertindak tegas setelah demonstrasi disusupi oleh kelompok terlatih dari luar negeri.
Situasi Lapangan yang Memburuk
Krisis ekonomi yang ditandai dengan jatuhnya nilai mata uang dan lonjakan biaya hidup menjadi pemicu awal unjuk rasa di 180 kota. Namun, tuntutan tersebut berkembang menjadi desakan perubahan politik yang merupakan tantangan tersendiri bagi kemapanan pemerintahan ulama sejak revolusi 1979.
Laporan dari tenaga medis di Teheran menggambarkan situasi yang mencekam. Prof. Shahram Kordasti, seorang spesialis medis yang berbasis di London, menerima laporan langsung dari rekannya di Teheran.
"Di sebagian besar rumah sakit, kondisinya seperti zona perang. Kami kekurangan pasokan medis dan stok darah," ungkap Kordasti kepada program BBC Newsday.
Meski akses jurnalis internasional sangat dibatasi, bukti visual yang beredar menunjukkan kerumunan keluarga yang mencari jasad kerabat mereka di pusat forensik Kahrizak.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi di Teheran seiring dengan ancaman Amerika Serikat yang mempertimbangkan berbagai opsi, mulai dari serangan siber hingga operasi militer.(*)

