Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Pembatasan Truk Sumbu Tiga Rugikan Pendapatan Supir Logistik

Jakarta : Pembatasan perlintasan kendaraan logistik yang rutin diberlakukan Pemerintah saat hari besar keagamaan nasional telah merugikan pendapat supir logistik. Seperti Natal dan Tahun Baru serta lebaran yang menghambat distribusi barang, sekaligus memberi tekanan terhadap kehidupan sopir truk.

Sebuah truk pengangkut logistik di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Kamis (15/1/2026)

Kebijakan itu membuat waktu tempuh perjalanan membengkak, ongkos operasional meningkat, dan pendapatan sopir tergerus drastis. Seperti Muhammad Irfan yang mengaku dirugikan akibat kebijakan tersebut.

Irfan meminta Pemerintah untuk dapat mengkaji ulang kebijakan pembatasan perlintasan truk tersebut. Sopir berusia 30 tahun ini mengungkapkan, kebijakan pembatasan perlintasan saat hari besar memangkas lebih dari 50 persen pendapatannya.

"Dalam kondisi normal bisa dua juta Rupiah. Tapi kalau terkena pembatasan perlintasan itu satu juta Rupiah sudah bersyukur," kata Irfan  di Jakarta, pada Kamis (15/1/2026).

Irfan yang merupakan sopir truk melayani rute Jakarta–Tanjung Enim itu menegaskan bahwa penghasilannya turun tajam akibat pembatasan kendaraan. Ia mengungkapkan, durasi perjalanan membuat biaya hidup di jalan membengkak. 

Mulai dari ongkos makan, penginapan darurat di rest area, hingga biaya parkir tidak resmi kerap menggerus penghasilan. Menurutnya, praktik pungutan liar masih menjadi risiko yang harus dihadapi sopir.

"Kalau lagi ada pembatasan, ongkos kami habis buat nginep, makan, parkir. Kadang ada preman, kita harus nempel duit, untuk pungli saja bisa habis sejuta lebih," ucapnya.

Tekanan serupa juga dirasakan Chandra Kusuma Wardana, sopir truk yang kerap melayani rute Jakarta–Semarang. Ia menilai pembatasan perlintasan sangat merugikan sopir karena mayoritas dari mereka bekerja dengan sistem borongan tanpa gaji pokok.

"Pendapatan kami itu murni dari jalan, kalau truk nggak jalan, ya kami rugi. Uang jalan habis, dari perusahaan juga nggak ada kompensasi apa-apa," ujar Chandra.

Dalam kondisi normal, perjalanan pulang-pergi Jakarta–Semarang-Jakarta dapat menghasilkan sekitar Rp1,5 juta dalam waktu enam sampai delapan hari. Namun, saat pembatasan diberlakukan, pendapatan itu dapat terpangkas lebih dari separuh.

Chandra menambahkan, kemacetan parah di jalur Pantura saat pembatasan membuat sopir kerap terjebak berjam-jam bahkan berhari-hari di jalan. Ia melanjutkan, jika truk dihentikan dan diarahkan ke rest area, biaya hidup justru semakin mahal.

Para sopir berharap Pemerintah tidak lagi memandang pembatasan logistik semata sebagai pengaturan lalu lintas. Melainkan juga melihat dampaknya terhadap pekerja di sektor angkutan barang.(*)

Hide Ads Show Ads