Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Terjadi Kejutan, IHSG Akhirnya Tembus Level 9.000 di Tengah Ketidakpastian

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menembus level 9.000 di awal perdagangan hari ini. Dari pantauan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG masih terus bergerak naik ke level 9.028 jelang jeda siang.(14/1/26).
Patung banteng Wulung di gedung Bursa Efek Indonesia, simbol saat pasar sedang naik

Pada penutupan perdagangan Selasa kemarin, IHSG juga naik ke zona hijau di level 8.948. Penguatan IHSG ditopang net buy (beli bersih) saham oleh investor asing sebesar Rp1,45 triliun.

Saham yang paling banyak dibeli asing adalah INCO, ASII, MBMA, BBNI, dan ANTM. "Hari ini, IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan sepanjang bertahan di support 8900," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Rabu (14/1/2026).

Sementara itu Tim Analis Mirae Asset Sekuritas mengatakan, aliran dana asing masih menjadi penopang utama kinerja indeks. "Pilihan saham oleh investor asing mencerminkan minat asing yang selektif terhadap emiten berorientasi komoditas dan siklikal," kata Tim Mirae Asset.

Saham-saham itu menjadi pilihan karena dinilai diuntungkan oleh pelemahan Rupiah dan prospek pertumbuhan laba. Meski demikian, sentimen pasar masih akan dipengaruhi oleh perkembangan global.

Pasar akan mencermati data inflasi AS bulan Desember sebesar 2,7 persen secara tahunan, masih di atas target 2 persen. Kemudian, ketegangan yang meningkat antara Ketua The Fed Jerome Powell dan Presiden Trump semakin meredam ekspektasi pelonggaran dalam waktu dekat.

Trump juga melontarkan ancaman baru berupa pengenaan tarif dagang 25 persen bagi negara yang berdagang dengan Iran. Trump bahkan memprovokasi rakyat Iran untuk melanjutkan aksi unjuk rasa dengan iming-iming bantuan dari AS.

"Bagi pasar, saluran transmisi utama adalah minyak mentah. Premi risiko geopolitik yang meningkat dapat mendorong harga naik meskipun gangguan pasokan masih terbatas," ujar Tim Mirae Asset.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak mentah akan memperburuk neraca perdagangan migas dan meningkatkan biaya impor energi. Inflasi berbasis impor juga berisiko melonjak, sehingga akan mempersempit ruang pemangkasan suku bunga.

"Kenaikan harga minyak juga akan meningkatkan risiko fiskal. Utamanya melalui kenaikan subsidi BBM dan LPG," ujar Tim Mirae menutup analisisnya.(*)

Hide Ads Show Ads