IHSG Dibuka Melemah, Saham Tambang Tertekan Sentimen Kenaikan Royalti
Karawang ; Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan Senin pagi tercatat melemah 9,46 poin atau 0,14 persen ke level 6.959,94.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah di Jakarta, Senin, menilai pergerakan IHSG dalam tiga hari perdagangan ke depan akan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global serta kebijakan terkait tarif royalti komoditas.
Ia menambahkan, pekan ini perdagangan berlangsung lebih singkat karena adanya libur nasional dan cuti bersama Hari Kenaikan Yesus Kristus pada 14–15 Mei 2026.
“Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah ia berpidato menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam perayaan Hari Kemenangan di Moskow yang berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya,” kata Hari dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Di sisi lain, kekhawatiran pasar terhadap potensi wabah hantavirus disebut masih relatif terbatas. Data dari platform prediksi Kalshi menunjukkan peluang wabah tersebut menjadi ancaman serius tahun ini hanya sekitar 21 persen, sehingga belum dianggap sebagai risiko utama oleh pelaku pasar.
Sementara itu, perhatian investor global saat ini tertuju pada rencana pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, dengan isu konflik Iran diperkirakan menjadi salah satu topik utama pembahasan.
“Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat,” jelas Hari.
Dari dalam negeri, sejumlah agenda dan kebijakan juga menjadi perhatian pelaku pasar.
“Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan,” ujarnya.
Selain itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menggelar sidang dengar pendapat pada 8 Mei 2026 terkait usulan penyesuaian tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, dan perak.
Menurut Hari, kebijakan tersebut kini sudah mengarah pada implementasi dan direncanakan mulai berlaku pada Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa dari seluruh komoditas yang terdampak, emas mengalami kenaikan tarif paling signifikan di batas bawah hingga mencapai 100 persen.
Kondisi tersebut dinilai memberikan tekanan di tengah harga emas global yang masih tinggi.
Sementara itu, timah disebut sebagai komoditas yang paling terdampak karena kenaikan tarif terjadi di kedua batas rentang royalti sekaligus.
“Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti saja. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah ketidakpastian, khususnya pada subsektor nikel dan batu bara, sehingga volatilitas sektor minerba berpotensi masih tinggi dalam jangka pendek,” katanya.
Melihat keseluruhan sentimen yang berkembang, Hari memperkirakan IHSG pada periode 11–13 Mei 2026 akan bergerak cenderung terbatas dengan pola campuran (mixed).
Rebalancing MSCI pada 12 Mei dinilai dapat memicu rotasi portofolio yang berpotensi menimbulkan volatilitas jangka pendek pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Di sisi lain, kebijakan kenaikan royalti yang akan mulai berlaku Juni 2026 serta wacana bea ekspor dan windfall tax diperkirakan masih akan menekan sektor pertambangan dan energi.
Dengan investor asing yang masih mencatatkan arus keluar dan belum menunjukkan tanda pembalikan tren, penguatan IHSG dinilai akan sangat bergantung pada aliran dana domestik serta performa saham big caps di luar sektor tambang.
“Dalam kondisi ini investor disarankan untuk tetap selektif dengan pendekatan trading-oriented, memanfaatkan momentum pada sektor yang menguat, namun tetap disiplin dalam pengelolaan risiko mengingat volatilitas pasar yang masih tinggi dan sentimen yang cepat berubah,” tutupnya.(*)
