Harga Minyak Brent Turun, Rupiah Melemah ke Rp17.988 per Dolar AS
Jakarta : Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan Jumat pagi seiring meredanya harga minyak dunia. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi turunnya harga minyak mentah Brent di bawah 73 dolar AS per barel yang meredakan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit Indonesia.
Nilai tukar rupiah tercatat melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.988 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.943 per dolar AS.
“Penurunan harga minyak tersebut meredakan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit Indonesia,” katanya, Jumat.
Ia menjelaskan, pelemahan harga minyak dipicu ekspektasi meningkatnya pasokan dari kawasan Timur Tengah. Kondisi ini turut berdampak pada pasar obligasi domestik yang mengalami penguatan.
Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tercatat menurun di berbagai tenor. Yield obligasi pemerintah tenor 5 tahun turun ke 7,21 persen (-4 basis points (bps)), tenor 10 tahun ke 7,18 persen (-3 bps), tenor 15 tahun ke 7,28 persen (-2 bps), dan tenor 20 tahun ke 7,26 persen (-4 bps).
Aktivitas perdagangan SBN juga meningkat menjadi Rp24,91 triliun, naik dari Rp17,33 triliun pada sesi sebelumnya. Kepemilikan asing turut bertambah Rp160 miliar menjadi Rp875 triliun per 24 Juni 2026, atau setara 12,66 persen dari total outstanding.
Dari sisi global, tekanan inflasi Amerika Serikat mulai menunjukkan pelemahan. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) umum tercatat tetap 0,4 persen month-on-month (mom) pada Mei 2026, di bawah ekspektasi pasar sebesar 0,5 persen mom.
Secara tahunan, inflasi PCE umum naik menjadi 4,1 persen year-on-year (yoy) dari 3,8 persen yoy, sementara inflasi PCE inti meningkat tipis ke 3,4 persen yoy dari 3,3 persen yoy.
Meski inflasi masih tinggi, data tersebut menunjukkan tekanan harga mulai melandai dalam jangka pendek sehingga sedikit meredakan kekhawatiran pasar.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal I-2026 direvisi naik menjadi 2,1 persen quartal-on-quartal (qoq) dari sebelumnya 1,6 persen qoq, menandakan ketahanan ekonomi masih kuat.
Dengan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.025 per dolar AS pada perdagangan hari ini.(*)
