Headline
Mode Gelap
Artikel teks besar

Marak Kecelakaan Kapal, Puan Minta Evaluasi Total Transportasi Laut

Jakarta : Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan transportasi laut menyusul serangkaian kecelakaan kapal yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, insiden tersebut menunjukkan masih adanya persoalan serius dalam aspek keamanan pelayaran di Indonesia.

Ketua DPR RI Puan Maharani
Ketua DPR RI Puan Maharani

Pernyataan itu disampaikan Puan setelah insiden kebakaran KM Mutiara Sentosa II di Perairan Sumenep, Madura, pada 2 Agustus 2026. Peristiwa yang terjadi saat kapal melayani rute Surabaya–Makassar itu mengakibatkan lima penumpang meninggal dunia, sementara proses pencarian terhadap korban yang masih hilang terus dilakukan oleh tim SAR.

Puan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan berharap proses evakuasi serta pencarian dapat berjalan maksimal.

"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada seluruh korban dan keluarga yang ditinggalkan. Peristiwa ini harus menjadi momentum untuk memperbaiki sistem keselamatan transportasi laut secara menyeluruh," kata Puan dalam keterangan tertulis, Selasa, 4 Agustus 2026.

Ia menilai keselamatan penumpang harus menjadi indikator utama dalam penyelenggaraan transportasi laut, bukan hanya kelancaran operasional maupun distribusi logistik.

Menurut Puan, rangkaian kecelakaan kapal yang terjadi sejak awal tahun memperlihatkan perlunya pembenahan tata kelola sektor pelayaran, mulai dari pengawasan terhadap operator, kepatuhan terhadap standar keselamatan, hingga kesiapan sarana penyelamatan.

"Banyaknya kecelakaan kapal dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan. Keselamatan masyarakat harus ditempatkan sebagai prioritas utama," ujarnya.

Puan juga menyoroti persoalan manifes penumpang yang kembali mencuat dalam insiden KM Mutiara Sentosa II. Ia menilai ketidaksesuaian data manifes dengan jumlah penumpang di lapangan merupakan persoalan yang berulang dan harus segera dibenahi.

"Masalah manifes tidak boleh terus terulang. Pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh agar pendataan penumpang lebih akurat dan proses penanganan saat keadaan darurat dapat berjalan lebih efektif," tegasnya.

Selain kebakaran KM Mutiara Sentosa II, Puan mengingatkan sejumlah kecelakaan kapal lain yang terjadi sepanjang tahun ini, seperti tenggelamnya KLM Nurul Salsa di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, yang hingga kini masih menyisakan korban hilang. Ia juga menyinggung beberapa insiden lain, mulai dari kebakaran kapal, kecelakaan akibat cuaca buruk, hingga gangguan operasional yang diduga dipicu kelalaian terhadap aspek keselamatan.

Menurut Puan, sebagai negara kepulauan, Indonesia harus memiliki sistem transportasi laut yang tidak hanya mampu menghubungkan antarpulau, tetapi juga memberikan jaminan keamanan bagi seluruh pengguna jasa.

Ia pun meminta pemerintah menetapkan target nasional untuk menurunkan angka kecelakaan transportasi laut, disertai evaluasi berkala terhadap kinerja operator, regulator, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan layanan pelayaran.

"Transportasi laut merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat di wilayah kepulauan. Karena itu, negara harus memastikan setiap perjalanan berlangsung dengan standar keselamatan yang baik sehingga masyarakat merasa aman saat menggunakan angkutan laut," tutur Puan.

Puan menegaskan, peningkatan kualitas keselamatan pelayaran harus menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional agar pelayanan transportasi laut yang aman, layak, dan andal dapat dirasakan seluruh masyarakat Indonesia.(*)
Posting Komentar
Tutup Iklan