79% Konsumen GrabFood Browsing Dulu Baru Beli - UMKM Karawang Tanpa Budget Iklan Besar Masih Bisa Menang?
JAKARTA: Perilaku konsumen di platform digital terus mengalami pergeseran, memaksa para pelaku industri food & beverage (F&B) menata ulang strategi pemasaran mereka. Perubahan ini ditegaskan dalam ajang F&B Forward: GrabAds Marketing Summit 2026 yang digelar pertama kalinya di Indonesia.
![]() |
| 79% Konsumen GrabFood Browsing Dulu Baru Beli - UMKM Karawang Tanpa Budget Iklan Besar Masih Bisa Menang? |
Director of Commercial Grab Indonesia, Roy Nugroho, mengungkapkan data internal mencatat sebanyak 79 persen pengguna GrabFood kini terbiasa melakukan pencarian (browsing) terlebih dahulu sebelum mengeksekusi pesanan mereka. Kebiasaan baru ini menandakan keputusan membeli tidak lagi hanya didorong oleh promosi semata, melainkan oleh sejauh mana produk tersebut sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Roy menepis anggapan bahwa pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tidak memiliki anggaran iklan besar (ads budget) akan tersingkir. Menurutnya, pergeseran perilaku ini justru membuka peluang bagi bisnis yang mumpuni dalam membangun relevansi produk.
"Kata kuncinya lebih kepada relevansi. Bagaimana brand F&B ini, mereka yang ada di dalam GrabFood, bisa lebih relevan kepada konsumen, dengan menggabungkan antara awareness solution dan conversion solution," ujar Roy Nugroho di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Ia menambahkan bahwa pertumbuhan bisnis di era digital tidak lagi hanya didominasi oleh pemain berkantong tebal. Kolaborasi yang tepat serta pemahaman mendalam terhadap segmen pasar menjadi kunci keberhasilan baru bagi pelaku usaha kuliner.
"Jadi bukan hanya mereka yang punya marketing budget, tetapi mereka yang bisa berkolaborasi bersama memunculkan ide dalam banyak hal. Masing-masing punya segmen tersendiri sehingga pertumbuhan itu bisa tetap tercapai," tegas Roy.
Forum F&B Forward: GrabAds Marketing Summit 2026 ini menjadi ruang strategis bagi para pelaku industri untuk merumuskan langkah pemasaran presisi, memadukan data perilaku konsumen dengan eksekusi kreatif agar tetap berdaya saing di pasar digital.
Catatan Mungkin untuk UMKM Karawang Kekinian:
Dengerin angka ini: 79% pengguna GrabFood sekarang browsing dulu baru beli. Artinya, zaman jualan cuma modal pasang foto gorengan, kasih diskon 40%, lalu tunggu pembeli, sudah lewat!
Konsumen Karawang, Cikampek, Kosambi sekarang pinter. Sebelum klik "Pesan", dia cek dulu: foto makanannya jelas tidak? Deskripsinya jujur tidak? Ulasannya bagus tidak? Relevan tidak dengan yang dia butuhkan malam ini?
Ini kabar buruk buat UMKM yang malas, tapi kabar baik buat UMKM yang cerdas.
Roy Nugroho dari Grab bilang, kata kuncinya RELEVANSI, bukan budget iklan besar. Artinya, warung pecel lele di Tuparev, surabi hijau Cikampek, pepes jambal Kosambi, masih bisa bersaing lawan brand besar Jakarta, asal relevan!
Relevan itu gimana? Contoh kerasnya:
1. Foto jangan asal: Jangan pakai foto comot Google. Foto surabi hijau ya surabi hijau Karawang asli, bukan stock photo pancake.
2. Deskripsi jujur: Kalau sambalnya pedas level neraka, tulis pedas level neraka. Jangan tulis "pedas sedang".
3. Gabungkan awareness + conversion:* Bukan cuma pasang iklan, tapi bangun cerita. Kenapa sih ayam bakar Karawang beda dari ayam bakar Cikampek?
Jangan minder kalau budget iklan cuma Rp50 ribu sehari. Grab sendiri bilang, yang menang bukan yang kantong tebal, tapi yang paham segmen. Segmen mahasiswa Unsika beda dengan segmen pekerja kawasan KIIC. Segmen keluarga di Galuh Mas beda dengan segmen anak nongkrong di Resinda.
Kalau selama ini UMKM Karawang mengeluh sepi di GrabFood, mungkin bukan karena tidak ada pembeli, tapi karena produk kita tidak relevan di mata 79% pembeli yang browsing dulu itu.
Di era digital ini, yang jujur, yang relevan, yang paham konsumen, yang akan menang. Yang cuma andalkan diskon, akan hilang pelan-pelan.
Saatnya UMKM Karawang naik kelas: bukan jualan murah, tapi jualan relevan.
