Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

IHSG Turun ke Level 5.234 hingga Jeda Perdagangan, Investor Tetap Bersikap Hati-hati

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami penurunan hingga jeda perdagangan Rabu 21 Oktober 2026 siang. Indeks melorot 44,53 poin atau 0,84 persen ke level 5.234,35 di tengah sikap kehati-hatian investor.
IHSG Turun ke Level 5.234 hingga Jeda Perdagangan, Investor Tetap Bersikap Hati-hati
IHSG Turun ke Level 5.234 hingga Jeda Perdagangan, Investor Tetap Bersikap Hati-hati

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka pada level 5.310,84 dan sempat menyentuh angka tertinggi 5.326,96. Namun, indeks kemudian turun hingga menyentuh level terendah pada posisi 5.185,36.

Nilai transaksi perdagangan mencapai Rp9,612 triliun dengan volume 18,905 miliar saham. Sedangkan frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1.086.786 kali transaksi.

Sebanyak 212 saham mengalami kenaikan, sedangkan 472 saham turun dan 105 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp9.231,932 triliun.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pergerakan pasar saham masih dipengaruhi sentimen eksternal dan domestik. Bursa Asia bergerak variatif di tengah membaiknya Wall Street dan optimisme terhadap permintaan server kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Ini muncul setelah Super Micro Computer menaikkan prospek pendapatannya. “Kondisi tersebut mendukung kinerja saham teknologi di tengah kekhawatiran terhadap besarnya investasi AI dan potensi imbal hasilnya,” katanya.

Namun, sentimen positif tersebut tertahan oleh prospek kebijakan ekonomi Tiongkok. “Pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga lebih kuat dari perkiraan,” kata Tim Pilarmas.

Hal ini disebut mengurangi ekspektasi stimulus tambahan. “Sementara itu, bank sentral Tiongkok mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya,” ujarnya.

Menurut Tim Pilarmas, investasi dan konsumsi domestik Tiongkok yang masih lesu tetap menjadi risiko bagi pertumbuhan ekonomi. Pelaku pasar juga mencermati kenaikan harga minyak yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi.

Harga minyak kembali naik setelah seorang diplomat membantah laporan mengenai kesepakatan untuk mengakhiri konflik AS dan Iran. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi dari Timur Tengah.

“Ada dua faktor utama yang memicu kekhawatiran ini," katanya. "Yaitu kerawanan jalur maritim Laut Merah dan potensi ancaman pada infrastruktur minyak Arab Saudi."

Dari dalam negeri, investor menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), Kamis 21 Oktober 2026. Keputusan rapat menjadi penting di tengah fluktuasi rupiah, ketidakpastian suku bunga The Fed, serta tekanan kenaikan harga minyak.

Tim Pilarmas juga menyoroti risiko inflasi akibat kenaikan harga pangan yang dipengaruhi fenomena El Nino. “Inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran BI sebesar 1,5-3,5 persen,” katanya.

Dalam kondisi tersebut, pelaku pasar mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan BI. Konsensus pasar memperkirakan suku bunga dapat meningkat dari 5,75 persen menjadi 6 persen.

Pada perdagangan sesi pertama, saham dengan kenaikan terbesar meliputi MKNT, SOLA, NATO, BUKK, dan JSPT. Sedangkan saham TGUK, ATAP, SINI, SHIP, dan UANG mencatatkan penurunan terbesar.

Untuk rekomendasi saham, Pilarmas merekomendasikan buy (beli) saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Rentang support dan resistance yang disarankan berada pada level 1.270 hingga 1.365.(*)

Hide Ads Show Ads