Topeng Pendul Tempuran Teater Rakyat Karawang yang Hidup Sejak 1920
TEMPURAN, Di antara sawah dan pesisir Tempuran, masih ada suara kenong dan kendang yang memanggil warga berkumpul. Itulah Topeng Pendul, kesenian asli Karawang yang bertahan lebih dari satu abad.
Topeng Banjet atau Topeng Pendul adalah teater rakyat Karawang yang serumpun dengan Topeng Cisalak, Topeng Tambun, dan Topeng Betawi. Awalnya lahir sebagai pelengkap upacara syukur panen padi — ungkapan terima kasih kepada Tuhan setelah panen melimpah. Sekitar tahun 1920-an bentuknya mulai menetap di Karawang.
Di Karawang, nama Topeng diambil dari pimpinan atau ronggeng terkenalnya. Maka lahirlah Topeng Asmu, Topeng Nyi Maya, Topeng Ali, Topeng Baskom, dan yang paling legendaris, Topeng Pendul Abah Pendul.
Grup Abah Pendul dari Tempuran adalah penjaga pakem. Alamat sanggarnya di Kp. Bayur RT 09/03 Desa Lemahduhur, Kec. Tempuran, Kab. Karawang, grup Sinar Pusaka Warna (SPW).
Struktur Pertunjukan:
Topeng Banjet terdiri dari 4 babak: atraksi musik, musik dan lagu, ronggeng menari dengan lawakan, dan cerita. Cerita biasanya roman, sejarah, kisah rumah tangga, legenda jawara, dibumbui pencak silat aliran Cimande, Serah, dan Sabandar.
Uniknya, sejak 1949 pemain tidak lagi memakai topeng fisik saat Ngajantuk dan Ngedok karena larangan keamanan Batalyon X Karawang saat itu. Topeng hanya jadi nama keseniannya saja, tapi jiwa topengnya tetap hidup.
Pemain tidak banyak tapi multiperan: 1 penari topeng inti, 1-2 penari pembantu merangkap pelawak wanita (ronggeng), 3 pemain laki-laki, dan 5 penabuh waditra yang juga jadi pemain pembantu.
Ciri khas Topeng Pendul adalah Ibing Pencak— tarian pencak silat pembuka yang wajib ada sebelum lakon dimulai. Gerakannya jadi pijakan membedakan tokoh hitam (jahat) dan putih (baik), diiringi gaya humor Sunda yang memikat.
Fungsi Kini:
Dari sawah, Topeng Pendul merambah hajatan perkawinan, khitanan, penyambutan tamu, pesta, hingga peringatan hari nasional. Ia adalah komunikasi estetik antara pemain dan penonton — pesan heroik, moral, dan jenaka disampaikan lewat bahasa, tanda, dan simbol yang spontan, sederhana, menyatu dengan rakyat.
Di tengah gempuran organ tunggal modern, Topeng Pendul Sinar Pusaka Warna masih setia menabuh kenong: _tatalu_ sebagai tanda pertunjukan akan dimulai.
Ia bukan sekadar tontonan, ia adalah identitas Karawang pesisir yang tak boleh hilang.(*)
Sumber: Jurnal Heritage Vol.9 2021, Disparbud Karawang, Sanggar SPW Tempuran
