IHSG Berpeluang Rebound ke 4.970, Waspada Koreksi Lanjutan ke 4.700
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang berbalik menguat dalam perdagangan hari ini. Setelah turun tajam dalam penutupan perdagangan Selasa kemarin sebesar 3,78 persen ke level 4.904.
Penurunan IHSG disertai dengan net sell asing sebesar Rp760 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBRI, ANTM, BUMI, TPIA dan TINS.
"Hari ini, IHSG berpotensi short term teknikal rebound ke 4.950-4.970. Tapi hati-hati, sepanjang belum tembus di atas 4.970, IHSG masih akan terkoreksi ke 4.700-4.800," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Rabu (4/11/2026).
Fanny memperkirakan IHSG akan bergerak di rentang 4.700-4.800 untuk level support. Sedangkan level resistansi akan bergerak di rentang 4.950-4.970.
Bursa AS bergerak beragam, dan bursa Asia melemah pada perdagangan Selasa kemarin. Sentimen pasar dipengaruhi oleh sikap para investor yang menunggu hasil pemilu sela di AS.
Indeks saham Nasdaq naik 0,83 persen, S&P 500 menguat 0,36 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 0,38 persen. "Penguatan terjadi menjelang pengumuman hasil pemilu paruh waktu AS," ucap Fanny.
Hasil pemilu menjadi salah satu faktor penentu arah kebijakan pemerintahan Presiden Trump pada dua tahun pertama masa jabatan keduanya. Hasil pemilu tersebut berpotensi memengaruhi kebijakan fiskal, regulasi, perpajakan, serta belanja pemerintah AS.
Sementara itu di Asia, bursa saham Korea Selatan anjlok 3,6 persen, begitu pula dengan sejumlah bursa lainnya. "Investor cenderung 'wait and see' menjelang pemilu sela di AS," ucap Fanny.
Sementara itu harga minyak dunia mulai stabil setelah anjlok lebih dari 7 persen pada perdagangan sebelumnya. Di dalam negeri, sentimen pasar dipengaruhi oleh hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Salah satu hasil rapatnya adalah revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi. KSSK menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 menjadi 5,4 persen–5,5 persen.
Menurut Tim Analis Phintraco Sekuritas, perkiraan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap prospek ekonomi domestik.
Sebelumnya KSSK memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 sebesar 5,6 persen-6 persen. Perkembangan global yang penuh tekanan, membuat KSSK mengubah target pertumbuhan ekonomi tahun ini.(*)
