Pengamat Soroti Viral Emak-emak Lemahduhur: Kades Harus Paham Geografis Desa, Dana Desa Tak Cukup Atasi Banjir
TEMPURAN - Keluhan tajam dilontarkan seorang emak-emak di Desa Lemahduhur, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang. Di tengah banjir yang merendam sawah dan kerja bakti warga membersihkan enceng gondok di aliran sungai, ia menyoroti absennya aparat desa dan kecamatan setempat (3/11/26).
Momen itu terekam dalam video yang beredar dengan tulisan "Keluhan Emak-emak di Lemahduhur Kecamatan Tempuran". Dalam video, seorang warga perempuan berbaju daster biru sambil pegang kayu berdiri di tengah banjir, meluapkan kekecewaannya.
"Hari ini masyarakat kerja bakti kayak begini, pejabatnya satu pun enggak ada," kata warga tersebut dalam video yang diterima redaksi.
Ia menyebut kerja bakti pembersihan di lokasi Cikibung dilakukan swadaya oleh warga, tanpa kehadiran kepala desa, sekretaris desa, maupun perangkat desa lainnya.
Warga tersebut secara khusus menitipkan pesan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM).
"Tolong Pak Dedi, pokoknya untuk Pak Dedi tolong bantuin, tolong dengar keluhan masyarakat. Baru dua hari nanam sawahnya sudah kerendam," ujarnya.
Menanggapi viralnya keluhan tersebut, pengamat publik Karawang, Rahmat (45) asal Desa Lemahkarya, Kecamatan Tempuran, menilai kades dan jajaran perangkat desa harus tahu betul letak geografis desanya.
Menurutnya, penganggaran dana desa harus tepat sasaran hingga mana kebutuhan yang harus diutamakan dalam tata kelola infrastruktur wilayahnya.
"Jika memang tidak tercover ajukan lewat program pemerintah daerah Karawang bisa langsung dinas terkait PUPR atau Distanbunnak Karawang, atau bisa lewat aspirasi dari kabupaten hingga pusat, minta alokasi itu bisa lewat proposal atau musrenbang. Disinilah pemimpin harus punya kepahaman kebutuhan dan kepentingan warga dan wilayah," kata Rahmat.
Ia menambahkan, dana desa saat ini tidak akan mampu meng-cover kerusakan infrastruktur, terlebih dana desa terpotong sana-sini karena banyak ragam peruntukannya.
"Viral emak-emak itu tanda nyata kurang kedekatan antara perangkat desa atau bisa mungkin juga miskomunikasi," ujarnya.
Untuk Camat Tempuran, Rahmat menilai seharusnya lebih tahu keadaan Tempuran secara utuh, terlebih yang bersangkutan merupakan putra Tempuran.
"Dari honorer hingga jadi camat dia bekerja, masa tidak tahu wilayah ada yang banjir atau sudah masuk musim tanam. Boleh lah banyak posting di FB Camat Tempuran sebagai bentuk laporan ke atasnya, tapi fakta ada warga sampai viral itu artinya tidak terdeteksi ada peristiwa penting di wilayah kerjanya. Masyarakat juga tahu mana kerja nyata dan sebuah seremoni semata," tukasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Desa Lemahduhur terkait keluhan tersebut. Warga berharap ada perhatian serius dari pemerintah desa, kecamatan, hingga Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk penanganan banjir yang berulang kali merendam area persawahan mereka.(Red)
