10 Perilaku Ruhani Sufi Raih Rida Ilahi

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah yang juga Kepala Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Sawangan, Depok, Oman Fathurahman menjelaskan hal ini melalui utasan pada akun twitter @ofathurahman dalam 10 tangga ruhani.

Al-taslim (pasrah) adalah #TanggaRuhani terakhir dalam Manzilah "al-Mu'amalat" (Interaksi). Berikutnya adalah Manzilah "Al-Akhlaq" (perilaku), berisi 10 tangga,” ujar Oman sebagaimana dikutip Humas Kemenag dengan penyesuaian seperlunya, terutama pada penulisan singkatan, Kamis (29/4/2021)

Tangga Ruhani Al-Akhlaq yang pertama adalah al-Sabr (bersabar). Ini bisa dipahami sebagai perilaku menahan diri ketika menghadapi hal yang tidak disukai, termasuk menahan diri untuk tidak mengadu, tidak putus asa. “Sabar dalam menyikapi perintah dan larangan-Nya (Allah), sabar menghadapi musibah,” tutur Oman.

Kedua, al-Syukr (bersyukur). Yakni memuji Pemberi nikmat, agar mengenali-Nya. Bersyukur dimulai dengan mengenali nikmat yang diterima, mengakuinya, dan memuji Pemberi nikmat. “Memuji adalah pangkal syukur, yang tidak memuji-Nya, tak akan bersyukur,” urainya.

al-Ridha (menerima) menjadi yang ketiga dalam tangga ruhani Al-AkhlakAl-Ridha adalah diam menerima kehendak-Nya tanpa ragu dan pengingkaran, di mana dan bagaimana pun keadaannya. “Seseorang dianggap rida, jika baginya hanya Allah yang paling dicintai, paling diagungkan, dan paling ditaati,” terang Oman.

Tahap berikutnya adalah al-Haya’ (malu). Yakni perasaan mengagungkan yang disertai dengan cinta (al-wudd). Malu karena merasa selalu diawasi oleh-Nya. Rasa malu lahir kalau menyadari banyak nikmat yang diterima tapi kurang bersyukur. “Hilang malu tanda keras hati,” demikian pengampu tadarus online (youtube) Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara (Ngariksa) ini memberi penegasan.

“Tangga ruhani kelima adalah al-Sidq atau jujur. Yakni selaras perkataan, sikap, dan perbuatan. Al-Sidq adalah kunci, poros kebenaran,” kata Oman. 

“Jujur mungkin terpinggirkan, tapi takkan terkalahkan. Jujur membuat hati tenang, dusta bikin gelisah. Ia jimatnya Abu Bakar. Yuk!” ajaknya.

Keenam, al-Itsar (mengkhususkan). Oman menjelaskannya dengan istilah memprioritaskan orang lain ketimbang diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin. Itsar adalah lawan kata dari kikir (al-syuhh). “Mutsir” berarti juaranya para dermawan. “Berat nian, setidaknya jangan bakhil,” jelas Oman.

Foto ilustrasi

Ketujuh, al-Khuluq (akhlak). Yakni sifat yang menggambarkan watak pelakunya. Semua makhluk adalah ciptaan-Nya, anjing sekalipun. Berakhlak berarti membuat makhluk lain nyaman, aman, dan selalu menebar cinta. Orang yang memberi, juga akan menerima.

Tangga ruhani Al-Akhlaq yang kedelapan adalah al-Tawadhu’ (rendah hati). Kata ini dimaknai dengan tunduk menerima al-Haq (Tuhan/Kebenaran). Tawadu juga berarti tenang, rendah hati, lembut, memandang orang lain besar, diri sendiri kecil, rendah hati bukan rendah diri, menerima kebenaran dari siapapun.

Sementara tangga kesembilan adalah al-Futuwwah (ksatria). Orang dengan sikap ini tidak memandang diri unggul dan paling berhak, tapi selalu tunduk pada-Nya. Futuwwah berarti meninggalkan permusuhan, memaafkan kesalahan, menutupi aib orang, tidak mendoakan buruk, mendekati yang menjauhi, dan memuliakan yang menghinakan.

“Terakhir, tangga ruhani kesepuluh adalah al-Inbisat (lapang). Artinya, merasa tenteram “berdampingan” dengan Sang Kekasih. Orang seperti ini akan selalu berperangai mulia, bahagia dalam kebenaran, serta menjadikan al-Haq sebagai ‘teman’,” urai Oman.

“Orang yang sudah sampai al-Inbisat, suka bermanja serta berasyik ma’syuk dengan-Nya. Musa AS 'berbicara' dengan Tuhan karena sudah inbisat,” tandasnya.**Ts

Post a comment

Berita Sebelumnya Berita Selanjutnya
×
Berita Terbaru Update
X
X