Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Persoalan Klasik Sulit Ditertibkan, Sopir Angkutan Resah : Travel Bodong Kembali Marak Jelang Lebaran

Sejumlah sopir angkutan umum di Kabupaten Pandeglang, Banten, mengeluhkan maraknya keberadaan travel gelap atau bodong. Para sopir menilai keberadaan travel gelap merugikan mereka karena mengambil penumpang tanpa izin.
Foto ilustrasi mobil elf

Seorang sopir bus elf, Eboy mengatakan, keberadaan travel bodong menjelang Lebaran Idulfitri kian marak. Akibatnya, mereka kesulitan mendapatkan penumpang. Hal itu dirasakan sejak hari ke-16 puasa.

“Penghasilan berkurang banyak, pusing narik selalu kosong. Apalagi BBM premium sekarang mahal,” Jumat kemarin, (21/3/2025).

Dia menceritakan, biasanya setelah melewati tradisi kunut di pertengahan bulan puasa, penumpang yang memulai perjalanan mudik mulai ramai. Namun saat ini untuk memenuhi kursi dalam sekali perjalanan sangat sulit.

“Pendapatan kami turun drastis, yang biasanya bisa setor Rp 300 ribu, sekarang Rp 150 ribu saja susah,” ujar dia.

Eboy menuturkan, travel bodong di Pandeglang mulai marak sejak lima tahun lalu. Dia bersama sopir angkutan lain sudah mengadukan masalah ini ke otoritas terkait, tetapi hingga kini belum ada tindak lanjut.

“Sudah lima tahun, kami sering lapor ke pemerintah setempat, tapi responnya cuma PHP (pemberi harapan palsu),” ucap Eboy.

Sopir bus jurusan Serang-Cibaliung ini membeberkan, travel bodong bisa dicirikan menggunakan mobil pribadi jenis minibus yang mengangkut penumpang dan barang melebihi kapasitas. Biasanya mereka beroperasi pada malam hari.

“Biasanya mereka beroperasi siang dan malam. Kalau di terminal jarang ambil penumpang, paling banyak di luar. Kalau ada yang bilang itu rombongan keluarga, saya rasa bohong, karena saya sering lihat,” kata dia.


Sementara sopir angkutan lainnya, Endang mengaku, sejak maraknya travel bodong, banyak penumpang yang tidak turun di Terminal Kadubanen. Travel bodong biasanya menggunakan sistem door to door dengan menawarkan harga murah. Padahal kendaraan travel bodong tidak berizin dan memakai pelat pribadi.

“Biasanya dari stasiun (Rangkasbitung) dia transit di sini (Terminal Kadubanen) untuk nanti melanjutkan ke selatan pakai bus. Tapi sekarang sudah tidak ada, apa yang mau diangkut?” ujarnya.

Bagi Endang, menjamurnya travel bodong menjelang lebaran sudah amat meresahkan. Kondisi ini membuat pendapatan mereka tergerus, sedangkan harga bahan bakar dan onderdil kendaraan tidak bisa ditoleransi.


“Kami sangat mengeluhkan kondisi ini. Sudah beberapa tahun seperti ini, pendapatan kami anjlok, susah cari penumpang,” kata dia.

Oleh karenanya, para sopir angkutan berharap ada tindakan tegas dari pemerintah untuk menertibkan travel bodong. Bukan hanya merugikan sopir angkutan, keberadaan mereka juga membahayakan penumpang lantaran tidak disertai izin operasi yang resmi.(*)

Hide Ads Show Ads