Analis Prediksi Harga Emas Pekan Depan Dipengaruhi Intrik hingga Geopolitik
Jakarta : Harga emas dunia diperkirakan masih akan berfluktuatif pada pekan depan. Hari ini, berdasarkan data Bloomberg harga emas dunia di level USD4.964 per troi ons, dan harga emas Antam Rp2.920.000 per gram.
Melihat pergerakan harga tersebut, Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas masih akan berfluktuatif pekan depan. “Perkiraannya, pergerakan harga emas untuk Senin, 9 Februari 2026, di level support di kisaran USD4.831-USD4.718 per troi ons, jika harganya turun,” kata Ibrahim, Minggu, 8 Februari 2026.
Jika harganya naik di level resitansi, harga emas akan bergerak di rentang USD5.057-USD5.170 per troi ons. “Perubahan harga emas dunia juga akan mempengaruhi harga logam mulia di dalam negeri,” ucap Ibrahim.
Menurutnya, kika harga emas dunia turun, harga logam mulia di rentang Rp2.725.000-Rp2.620.000 per gram. Jika harga emas dunia naik, maka harga logam mulia di rentang Rp2.800.000-Rp2.900.000 per gram.
Harga logam mulia di dalam negeri, tambah Ibrahim, juga akan dipengaruhi oleh pergerakan indeks mata uang dolar AS. Naik turunnya indeks dolar AS akan berpengaruh pada posisi nilai tukar rupiah.
Ibrahim memperkirakan, pekan depan, indeks dollar AS kemungkinkan berada di level 96,70-98,60. Sehingga nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.750-Rp17.200 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, sejumlah faktor akan mempengaruhi harga emas pekan depan. Diantaranya, tertundanya rilis data tenaga kerja di AS yang seharusnya hari Jumat kemarin, baru akan dirilis Rabu mendatang.
“Hal tersebut membuat pelaku pasar mengambil sikap “wait and see”,” ucap Ibrahim. Karena data tenaga kerja salah satu penentu kebijakan suku bunga bank sentral AS, the Fed.
“Sementara itu, bank-bank sentral di Eropa dan Bank of England memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya. Kondisi perekonomian global yang masih tidak menentu, menjadi pertimbangan untuk menahan suku bunga,” ujar Ibrahim.
Dari sisi geopolitik, lanjutnya, pertemuan antara AS dan Iran di Oman, membuat ketegangan di kawasan sedikit mereda. Meski kedua belah pihak masih saling ancam.
Presiden Trump juga menginginkan penyelesaian damai konflik Rusia dan Ukraina pada bulan Mei-Juni. Namun, Trump kembali berulah dengan menuding Tiongkok melakukan uji coba nuklir secara diam-diam, tapi dibantah Xi-Jinping.
“Inilah intrik-intrik yang kemungkinan membuat harga emas dunia naik pekan depan,” ujar Ibrahim. Kalau sekarang harga emas dunia masih turun, penyebabnya karena pasar apatis terhadap sosok Kevin Warsh.
Ia mengatakan, Warsh adalah sosok pilihan Presiden Trump untuk menjadi Ketua the Fed menggantikan Jerome Powell. Powell akan mengakhiri masa tugasnya sebagai ketua the Fed pada bulan Mei mendatang.
“Pasar apatis karena Warsh dinilai pro suku bunga tinggi. Trump membantah pandangan itu, dan mengatakan akan memecat Warsh jika tidak mengikuti kemauannya,” kata Ibrahim.
Sehingga pelaku pasar cenderung melakukan aksi ambil untuk dari harga emas. Selain itu, kondisi bursa berjangka Chicago Mercantile Exchange (CME) juga kurang menarik untuk pasar.
CME, tambah Ibrahim, memberlakukan margin jaminan yang tinggi dan ‘spread’ yang melebar. Margin jaminan per lot meningkat dari USD500 menjadi USD1.000-USD2.000.
“Akibatnya volatilitas tinggi sehingga menekan minat pelaku pasar untuk bertransaksi. Karena akan terjadi pengurangan apa yang disebut ‘call margin’ dan mendorong kenaikan margin transaksi,” ujar Ibrahim lagi.
Hal ini, menurutnya, juga akan mendorong berlanjutnya penurunan harga emas dunia. Kombinasi antara faktor tensi geopolitik, kebijakan politik Presiden Trump dan perkembangan data ekonomi AS.(*)
