AS-Iran Sepakati Jalur Diplomasi Nuklir di Oman
Muscat: Dialog tidak langsung di Muscat berakhir dengan sinyal positif untuk meredakan ketegangan regional.
Iran dan Amerika Serikat sepakat untuk mempertahankan jalur diplomasi terkait program nuklir Teheran setelah menyelesaikan rangkaian pembicaraan tidak langsung di Oman, Jumat 6 Februari 2026.
Pertemuan ini menandai kontak perdana kedua negara sejak eskalasi militer besar-besaran yang mengguncang kawasan pada Juni lalu.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan penilaian optimis terhadap diskusi selama delapan jam tersebut.
Ia melabeli pertemuan itu sebagai "awal yang baik" yang berlangsung dalam atmosfer kondusif, meski ia menekankan bahwa keberlanjutan dialog sangat bergantung pada konsultasi internal di Washington dan Teheran.
"Setelah delapan bulan yang penuh gejolak dan konflik, memulai kembali proses dialog bukanlah perkara mudah," ujar Araghchi dalam keterangannya yang di kutip The Guardian .
Ia mengakui adanya krisis kepercayaan yang mendalam, namun meyakini kerangka kesepakatan dapat tercapai jika tren positif ini berlanjut.
Fokus pada Isu Nuklir
Pemerintah Iran menegaskan bahwa diskusi di Muscat secara eksklusif berfokus pada jaminan tujuan sipil program nuklir mereka.
Teheran menolak keras perluasan agenda pembicaraan ke isu hak asasi manusia, pengembangan rudal balistik, maupun dukungan terhadap kelompok proksi di Timur Tengah.
“Pembicaraan kami murni mengenai nuklir. Kami tidak membahas masalah lain dengan pihak Amerika,” tegas Araghchi, menggarisbawahi posisi tawar Iran di tengah tekanan domestik dan sanksi ekonomi.
Mediasi Oman di Tengah Tekanan Militer
Dialog ini dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang memfasilitasi komunikasi antara delegasi Iran dan tim AS.
Delegasi Amerika Serikat sendiri dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, dengan kehadiran Komandan Centcom AS, Laksamana Brad Cooper.
Dalam pernyataan resminya, Al-Busaidi menyatakan bahwa konsultasi tersebut berfokus pada penciptaan kondisi yang kondusif bagi dimulainya kembali negosiasi teknis.
"Para pihak menunjukkan tekad untuk mencapai keamanan dan stabilitas permanen," tulis pernyataan tersebut.
Ketegangan Regional
Pertemuan ini terjadi di tengah kehadiran militer AS yang signifikan di kawasan, termasuk gugus tugas kapal induk USS Abraham Lincoln.
Presiden Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan tindakan militer lebih lanjut jika tidak ada kemajuan diplomasi yang konkret.
Di sisi lain, ekonomi Iran tengah menghadapi tekanan berat.
Nilai tukar Rial merosot tajam dan inflasi pangan melonjak drastis menyusul serangan udara Israel tahun lalu.
Bagi Teheran, keringanan sanksi ekonomi menjadi target utama sebagai imbalan atas rezim inspeksi nuklir yang baru, sementara Washington tetap menuntut penghentian aktivitas pengayaan uranium yang dianggap mengancam keamanan global.(*)
