Awas & Waspada! BMKG Ingatkan Potensi Gelombang Tinggi hingga 6 Februari
Jakarta : Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia pada, 3–6 Februari 2026. Kondisi ini dipicu adanya pola angin kencang yang terpantau di wilayah utara dan selatan Indonesia.
Prakirawan BMKG Mia Utami menjelaskan, angin di wilayah utara bergerak dari utara hingga timur laut. Sementara wilayah selatan didominasi angin barat hingga barat laut dengan kecepatan lebih tinggi.
“Kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Flores, Laut Banda, dan Laut Arafuru,” kata Mia Utami melalui keterangan tertulis, Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026. Ia menegaskan, kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap peningkatan tinggi gelombang laut.
BMKG mencatat, gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di sejumlah perairan strategis. Wilayah tersebut antara lain Selat Malaka, Laut Jawa, Laut Natuna Utara, dan Samudra Hindia selatan Jawa.
Potensi gelombang dengan ketinggian serupa juga dapat terjadi di Laut Sulawesi, Laut Banda, dan Samudra Pasifik utara Papua. Selain itu, perairan barat Sumatra dan selatan Bali hingga NTT turut berisiko terdampak.
“Sedangkan gelombang lebih tinggi kisaran 2,5 sampai 4 meter berpeluang terjadi di Laut Maluku. Kondisi serupa juga berpotensi muncul di Samudra Pasifik utara Maluku dan Papua Barat Daya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, potensi gelombang tinggi berisiko terhadap keselamatan pelayaran berbagai jenis kapal. Oleh karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan selama periode peringatan berlangsung.
Nelayan diimbau menghindari pelayaran saat angin melebihi 15 knot dan gelombang di atas 1,25 meter. Sementara kapal tongkang diminta mewaspadai angin lebih dari 16 knot dan gelombang 1,5 meter.
Untuk kapal feri, adanya potensi bahaya pada angin di atas 21 knot dan gelombang 2,5 meter. Kapal besar seperti kargo dan pesiar diminta menghindari pelayaran saat gelombang melebihi 4 meter.
“Dimohon masyarakat pesisir tetap waspada terhadap potensi gelombang tinggi selama periode ini,” kata Mia Utami. Ia juga mengimbau untuk selalu rutin memantau informasi cuaca sebelum beraktivitas di laut.
Sebelumnya, Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tenau Kupang, Nur Ida Hasana, mengingatkan nelayan dan masyarakat pesisir agar meningkatkan kewaspadaan. Informasi cuaca maritim perlu diperhatikan sebelum melakukan aktivitas di laut.
“Cuaca buruk di laut dapat terjadi secara tiba-tiba. Nelayan dan pelaku pelayaran kami imbau untuk selalu memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG,” kata Nur Ida Hasana, Minggu (1/2/2026).
BMKG juga mengimbau nelayan untuk menunda aktivitas melaut apabila kondisi perairan dinilai tidak aman. Keselamatan jiwa menjadi prioritas utama di tengah cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di wilayah perairan timur Indonesia.(*)


