Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News
WEB UTAMA

IHSG Ditutup Anjlok 4,88 Persen, Tertekan Pelemahan Bursa Asia dan Koreksi Komoditas

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah tajam pada perdagangan Senin sore, seiring tekanan dari pelemahan bursa saham kawasan Asia dan koreksi harga komoditas global.
dok. IDX

IHSG berakhir turun 406,88 poin atau 4,88 persen ke level 7.922,73. Sejalan dengan itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga terkoreksi 27,29 poin atau 3,27 persen ke posisi 806,24.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyampaikan bahwa pelemahan IHSG dipicu oleh sentimen negatif dari penurunan harga komoditas global yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pasar saham domestik.

“Sentimen negatif di antaranya berasal dari koreksi harga komoditas di tingkat global,” ujar Ratna dalam keterangan yang dikutip dari laman ANTARA, Senin, 2 Februari 2026.

Selain itu, pelaku pasar masih mencermati perkembangan upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI yang tengah melakukan pertemuan dengan MSCI. Pertemuan tersebut bertujuan mengembalikan kepercayaan investor global serta membahas reformasi dan peningkatan transparansi pasar modal Indonesia.

Dari sisi domestik, sejumlah data ekonomi sebenarnya menunjukkan sinyal positif. Indeks PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 52,6 pada Januari 2026 dari 51,2 pada bulan sebelumnya, menandakan aktivitas manufaktur terus berekspansi selama enam bulan berturut-turut.

Surplus neraca perdagangan Indonesia juga meningkat menjadi 2,52 miliar dolar AS pada Desember 2025, dibandingkan 2,24 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan ekspor sebesar 11,64 persen secara tahunan.

Namun demikian, tekanan datang dari data inflasi yang berakselerasi menjadi 3,55 persen (year on year) pada Januari 2026, meskipun secara bulanan tercatat deflasi sebesar 0,15 persen.

Di tingkat regional, mayoritas bursa saham Asia ditutup di zona merah. Investor menyoroti data aktivitas pabrik China yang meningkat menjelang libur Tahun Baru Imlek, serta sentimen global lain seperti respons negatif terhadap pencalonan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya, kekhawatiran terbentuknya gelembung di sektor kecerdasan buatan (AI), hingga aksi jual besar-besaran pada emas dan perak.

Tekanan jual pada logam mulia berlanjut pada perdagangan Senin (2/2), setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam pada Jumat (30/1), dipicu oleh penguatan 
dolar AS dan aksi ambil untung investor.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak konsisten di zona negatif sejak pembukaan hingga penutupan sesi kedua. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor tercatat melemah. Sektor barang baku menjadi yang tertekan paling dalam dengan penurunan 10,60 persen, disusul sektor barang nonkonsumen dan sektor energi yang masing-masing turun 7,89 persen.

Sementara itu, saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar antara lain INTD, SOHO, SWID, EDGE, dan NICK. Adapun saham dengan penurunan terdalam di antaranya CUAN, MBMA, ENRG, GTSI, dan MDKA.

Dari sisi aktivitas perdagangan, frekuensi transaksi saham mencapai 2.949.040 kali dengan volume perdagangan sebanyak 50,41 miliar lembar saham dan nilai transaksi Rp29,17 triliun. Sebanyak 58 saham menguat, 720 saham melemah, dan 36 saham stagnan.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei Jepang ditutup turun 667,70 poin atau 1,25 persen ke level 52.655,19. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 611,53 poin atau 2,23 persen ke posisi 26.775,57, indeks Shanghai terkoreksi 102,20 poin atau 2,48 persen ke level 4.015,75, dan indeks Straits Times Singapura turun 12,85 poin atau 0,26 persen ke posisi 4.892,27.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads