Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News
WEB UTAMA

IHSG Hari Ini Dibuka Naik tetapi Masih Rawan Terkoreksi

Jakarta : Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan kenaikannya pada pembukaan perdagangan Selasa 10 Februari 2026. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka naik 0,68 persen ke level 8.031,58.

Papan elektronik berisi informasi pergerakan IHSG di Main Hall Bursa Efek Indonesia

Sehari sebelumnya, IHSG ditutup naik 1,22 persen tetapi disertai dengan net sell (jual bersih) asing sebesar Rp600 miliar. Saham yang paling banyak dijual investor asing adalah BBCA, BBRI, BUMI, HRTA dan NCKL.

Meski begitu, Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, mengatakan penguatan IHSG masih rawan terkoreksi. "IHSG berpotensi untuk koreksi terbatas," ujarnya.

Fanny memperkirakan IHSG akan bergerak pada rentang 7.900-8.000 untuk level support. Sedangkan pada level resistansi akan bergerak di rentang 8.050-8.100.

Proyeksi yang sama juga diungkapkan Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto. "Kami menilai penguatan IHSG bersifat spekulatif karena ditopang saham-saham berisiko tinggi," ujarnya.

Di antaranya DSSA, EMAS, dan BRMS. "Sementara itu saham-saham berfundamental kuat di sektor perbankan justru terkoreksi," ucapnya.

Menurut analisisnya, investor asing masih melanjutkan aksi jual saham pada Senin 9 Februari 2026. Di antaranya saham BBCA yang mengalami net sell sekitar Rp715 miliar.

Kemudian net sell saham BBRI mencapai sekitar Rp264 miliar. Sedangkan saham ANTM membukukan net buy (beli bersih) saham oleh investor asing sekitar Rp118 miliar.

Rully juga mencermati imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang mengalami naik menjadi 6,46 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun juga naik ke kisaran 4,22 persen.

Kenaikan imbal hasil SBN ikut mempengaruhi sentimen investor. Selain sentimen akibat penurunan outlook utang Indonesia serta pembekuan rebalancing indeks saham Indonesia.

"Kedua faktor tersebut masih membayangi pasar domestik," ujar Rully. Menurut dia, para investor jadi sangat selektif terhadap aset berisiko(*).

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads