Menag Sebut Ramadan Bukan Sekadar Ritual, Tapi Pendalaman Batin
Jakarta : Menteri Agama (Menag) KH Nasaruddin Umar menekankan, ibadah pada bulan suci Ramadan tidak boleh hanya berhenti pada ritual formal semata. Menurutnya, Ramadan harus menjadi momentum pendalaman batin sekaligus penguatan kepedulian terhadap sesama dan alam semesta.
![]() |
| Menteri Agama Nasaruddin Umar saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jumat 6 Februari 2026 (Foto: UIN Walisongo Semarang) |
Hal ini disampaikan Menag Nasaruddin Umar saat memberikan tausiyah dalam Pengajian Akbar di Masjid UIN Alauddin Kampus 2, Gowa, Sulawesi Selatan, Senin, 9 Februari 2026. Dalam kesempatan itu, Menag menyebut peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai prolog atau persiapan mental bagi umat Islam sebelum memasuki bulan Ramadan.
“Menjelang syukur Ramadan, ada prolog yang Allah berikan kepada kita semuanya sebagai shock therapy untuk menghadapi Ramadan. Yaitu, Isra’ Mi’raj,” ujar Menag.
Ia menjelaskan, peringatan Isra’ Mi’raj yang hadir sebelum Ramadan seharusnya dimaknai sebagai ajakan untuk membersihkan hati dan menyiapkan diri secara spiritual. Ramadan, lanjutnya, adalah waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali nilai kesucian dalam relasi antarmanusia dan hubungan dengan alam.
Menag juga mengajak umat Islam untuk menggeser orientasi ibadah, dari sekadar mengejar pahala personal menuju upaya meraih rida Allah. Yaitu, melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi orang lain.
“Kita jangan mengejar Lailatul Qadr, mana lebih penting kita mencari Lailatul Qadr atau mencari yang menurunkan Lailatul Qadr?. Lailatul Qadr itu makhluk, surga itu makhluk, yang kita butuhkan adalah siapa yang menurunkan Lailatul Qadr, Allah SWT,” ujarnya.
Menurut Menag, semangat solidaritas sosial hanya dapat tumbuh dari rasa cinta yang tulus kepada Sang Pencipta. Ia mengutip filosofi sufi perempuan Rabi’ah Adawiyah, bahwa ibadah yang dilandasi cinta atau mahabbah akan melahirkan kasih sayang yang murni kepada sesama tanpa sekat.
“Saya menyembah Tuhan karena I love you my God, saya mencintaimu, jadi kalau mahabbah yang berbicara, kecil itu surga, kecil itu neraka. Kita harus yakin betul bahwa Tuhan itu Maha Pengasih, Maha Penyayang,” ujar Menag.
Lebih lanjut, Menag mengingatkan bahwa keberagaman dan perbedaan pendapat di tengah masyarakat harus disikapi sebagai rahmat. Ia mencontohkan tradisi para sahabat Nabi yang menjadikan perbedaan sebagai sarana memperkuat persaudaraan, bukan sumber perpecahan.
“Perbedaan pendapat di antara umat itu adalah rahmat. Kita kadang-kadang mendebat orang tidak ada cinta,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo menyampaikan ucapan selamat bagi Umat Islam yang akan menjalankan ibadah puasa Ramadan. Awal puasa Ramadan diprediksi akan dimulai pada pertengahan Februari 2026.
“Saya mengucapkan selamat untuk seluruh Umat Islam. Sebentar lagi menjalankan bulan suci Ramadan,” kata Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya saat menghadiri Mujahadah Kubro dalam rangka hari lahir Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu, 8 Februari 2026.
Kepala Negara berharap, umat Muslim dapat menjalankan ibadah puasa dengan keadaan baik dan berkecukupan. Presiden mengajak rakyat Indonesia bersatu dan berikhtiar agar bulan puasa membawa kedamaian.
“Insyaallah bulan suci ini kita akan melewati dalam keadaan yang tenang, yang sejuk, dan dengan keadaan berkecukupan bagi semua keluarga. Kita juga bersatu dalam doa dan ikhtiar agar bulan Ramadan yang akan datang ini membawa ketenangan, kesejukan, kedamaian, dan persatuan,” ujar Presiden.(*)
