Serangan Rusia Tewaskan Anak di Ukraina
Kyiv: Drone dan rudal hantam infrastruktur energi di tengah cuaca membeku.
Di tengah suhu musim dingin yang menggigit, suara sirine serangan udara kembali memecah kesunyian malam di Ukraina senin 9 Februari 2026.
Sebuah gelombang besar serangan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) Rusia menghantam berbagai wilayah pada Senin dini hari, merenggut nyawa warga sipil termasuk seorang anak laki-laki berusia 10 tahun.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa pasukan Rusia meluncurkan 11 rudal balistik dan 149 drone dalam serangan semalam. Serangan ini memutus aliran listrik bagi puluhan ribu orang, memperburuk krisis energi di tengah kampanye musim dingin Moskow.
Tragedi di Bohodukhiv dan Odessa
Di kota Bohodukhiv, wilayah timur Ukraina, sebuah area pemukiman berubah menjadi puing. Pejabat setempat mengonfirmasi bahwa seorang wanita dan anak laki-lakinya yang berusia 10 tahun tewas di lokasi kejadian.
Tragedi serupa terjadi di wilayah utara Chernihiv, di mana seorang pria berusia 71 tahun kehilangan nyawanya.
Kekacauan juga mencapai kota pelabuhan Odesa di selatan. Gubernur Regional Oleh Kiper menyatakan satu orang tewas dan dua lainnya terluka setelah sebuah bangunan tempat tinggal dan pipa gas rusak berat.
Kiper mengecam keras serangan tersebut, dengan menyebutnya sebagai:
“Kejahatan perang lainnyaterhadap warga sipil.”
Di wilayah tenggara Dnipropetrovsk, Gubernur Oleksandr Hanzha melaporkan sedikitnya sembilan orang lainnya, termasuk seorang gadis berusia 13 tahun, terluka akibat hantaman drone.
Tekanan Diplomatik dan Kebuntuan Negosiasi
Menanggapi serangan ini, Menteri Luar Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mendesak Uni Eropa untuk memberlakukan larangan masuk total bagi warga Rusia yang terlibat dalam perang. Lewat unggahan di platform X, ia menegaskan perlunya konsekuensi nyata.
“Ini akan menetapkan harga yang tepat untuk pilihan yang salah,” tulis Sybiha.
Serangan gencar ini terjadi di saat upaya diplomatik sedang berlangsung. Meski ada pembicaraan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat, kedua belah pihak masih berada dalam kebuntuan terkait status wilayah Ukraina timur yang diduduki Rusia.
Presiden Volodymyr Zelenskyy mengindikasikan bahwa pemerintahan Donald Trump telah menetapkan tenggat waktu hingga Juni bagi kedua pihak untuk mencapai kesepakatan.
Bantahan Moskow dan Ketegangan Intelijen
Hingga saat ini, Rusia belum memberikan komentar resmi mengenai serangan terbaru ini. Sejak invasi besar-besaran dimulai pada Februari 2022, Moskow secara konsisten membantah telah menargetkan warga sipil dengan sengaja.
Di sisi lain, tensi intelijen meningkat setelah Uni Emirat Arab mengekstradisi seorang pria yang dituduh melakukan upaya pembunuhan terhadap Wakil Kepala Intelijen Militer Rusia, Letnan Jenderal Vladimir Alekseyev.
FSB Rusia menuduh Ukraina berada di balik serangan itu, namun Kyiv membantah terlibat dalam upaya pembunuhan Alekseyev.(*)
