Terkendala Administrasi Sertifikat, Rumah Lansia di Pekalipan Cirebon Terancam Ambruk
Cirebon ;Rasa cemas selalu menghantui Sri Puspitasari (67), seorang lansia di Kelurahan Pekalipan, Kota Cirebon. Di saat warga lain bisa beristirahat dengan tenang, Sri justru harus bertaruh nyawa di bawah atap rumahnya yang sudah lapuk dan terancam ambruk sewaktu-waktu.
Warga Gang Pulo Kaca RT 02/RW 08, Kecamatan Pekalipan ini terpaksa menetap di rumah peninggalan orang tuanya yang kondisinya sangat memprihatinkan. Sejak terakhir kali direnovasi pada tahun 1974, bangunan tersebut kini hanya menyisakan kayu-kayu rapuh dan atap yang sudah bolong di sana-sini.
Bersama suaminya, Hadiyanto (53), Sri menjalani keseharian di tengah puing-puing genting yang sering jatuh tiba-tiba. Saat siang hari, terik matahari langsung menembus ke dalam ruangan. Namun, kondisi paling berat terjadi saat malam tiba atau ketika hujan turun.
"Takut kalau tidur suka ada bunyi ‘prak-pruk’. Besoknya lihat genting sudah jatuh. Enggak pernah bisa tidur nyenyak karena takut kerubuhan," ujar Sri pada Minggu, 1 Maret 2026.
Untuk menahan rembesan air hujan dan terjangan angin, selembar terpal biru menjadi satu-satunya pelindung yang ia miliki. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak punya pilihan selain bertahan meski keselamatan nyawanya menjadi taruhan.
Dulu, Sri adalah sosok yang mandiri dan terbiasa berjualan nasi kuning serta berdagang di Pasar Kanoman sejak dini hari. Namun, penyakit vertigo yang dideritanya memaksa Sri berhenti beraktivitas. Kini, untuk kebutuhan makan sehari-hari, ia sering kali bergantung pada uluran tangan keluarga.
Di balik segala keterbatasannya, Sri masih menyimpan sebuah impian sederhana. Ia ingin rumahnya kembali layak huni agar ia bisa kembali memproduksi kue kering.
"Penginnya dibetulkan, pengin bikin kue kering lagi. Saya selalu doakan siapa pun yang menolong saya biar sukses," ungkapnya penuh harap.
Kondisi rumah Sri sebenarnya sudah menjadi perhatian pengurus lingkungan setempat. Ketua RW 08 Pekalipan, Adi Gumelar, menegaskan bahwa pihaknya telah mengajukan bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) sejak tahun lalu.
Namun, hingga kini realisasi bantuan tersebut masih membentur tembok birokrasi. Kendala utama terletak pada administrasi sertifikat rumah yang statusnya masih dalam proses pengurusan di Badan Pertanahan Nasional (BPN).
"Kondisinya ini sudah bukan sekadar tidak layak huni lagi, tapi hampir ambruk. Kami khawatir ada korban jika tidak segera ditangani," tegas Adi.
Warga sekitar berharap Pemerintah Kota Cirebon atau instansi terkait dapat memberikan diskresi atau percepatan bantuan mengingat urgensi keselamatan nyawa penghuninya.(*)



