BGN Tutup SPPG Cilegon, Evaluasi Total Dilakukan
Karawang: Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Cilegon, Banten, setelah insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa MTs Al Inayah.
Penutupan dilakukan sebagai langkah cepat untuk memastikan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyediaan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN RI, Dadang Hendrayudha, menegaskan bahwa evaluasi tidak hanya menyasar kualitas makanan, tetapi juga mencakup tata kelola dapur hingga mekanisme distribusi.
“Begitu ada laporan kejadian, kami langsung hentikan operasionalnya. Semua aspek kami audit, mulai dari penataan dapur sampai alur kerja penyajian,” kata Dadang dalam keterangan tang dikutip, Rabu, 22 April 2026.
BGN juga memperketat prosedur pengawasan dengan mewajibkan setiap dapur menyimpan sampel makanan harian sebagai bahan uji laboratorium apabila terjadi kasus serupa.
“Setiap menu wajib ada sampelnya. Ini penting untuk penelusuran, apakah benar sumber masalah berasal dari makanan atau faktor lain,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, BGN mengeluarkan aturan baru terkait waktu produksi makanan. Seluruh SPPG diminta memulai proses memasak setelah pukul 02.00 dini hari guna menjaga kualitas hidangan.
“Tidak boleh lagi memasak terlalu dini. Kami atur bertahap supaya makanan tetap segar dan higienis saat dikonsumsi,” tegasnya.
Sebelumnya, sebanyak 49 siswa MTs Al Inayah dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG pada Kamis (16/4). Para siswa sempat mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Kapolres Cilegon, AKBP Martua Raja Silitonga, mengatakan pihak kepolisian tengah mendalami kasus tersebut dengan mengumpulkan data dari puskesmas yang menangani korban.
“Dari pendataan sementara, ada sekitar 49 siswa yang mengalami keluhan kesehatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi korban bervariasi, mulai dari mual, pusing, hingga gejala lain yang masih dalam observasi tenaga medis.
“Gejalanya tidak sama, ada yang mual berkali-kali, ada juga yang pusing. Saat ini semuanya masih dalam penanganan,” kata Martua.
Hingga kini, aparat kepolisian bersama instansi terkait terus menyelidiki sumber penyebab kejadian, sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program MBG agar tetap aman bagi para siswa.(*)
