Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Ngeriii, Kembali KDRT Terjadi di Karawang, Begini Kronologisnya

Karawang: Derita panjang harus dialami seorang ibu berinisial MSA (34), warga Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang. Ia diduga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan suaminya sendiri, berinisial ABP, hingga berujung pada penularan penyakit menular seksual (PMS).(11/4/26).
Foto ilustrasi

Tak hanya itu, tragedi yang dialami MSA semakin memilukan setelah anak semata wayang mereka—yang lahir melalui program bayi tabung—diduga turut menjadi korban kekerasan seksual oleh ayah kandungnya.

MSA menceritakan, pernikahannya dengan ABP dimulai pada 2014. Setelah lima tahun belum dikaruniai anak, keduanya sepakat menjalani program bayi tabung pada 2019. Kebahagiaan sempat hadir saat anak pertama mereka lahir, namun situasi berubah drastis tak lama kemudian.

Memasuki tahun 2020, MSA mulai mengalami kekerasan verbal dari sang suami. Ia kerap dimaki dengan kata-kata kasar. Setahun berselang, kondisi semakin memburuk setelah ia menemukan bukti perselingkuhan ABP dengan sejumlah wanita.

Alih-alih mendapatkan penjelasan, MSA justru mengalami kekerasan fisik saat mencoba menyimpan bukti tersebut.

“Dia menindih saya, mencekik, bahkan memukul,” ungkapnya.

Selama bertahun-tahun, MSA mengaku hidup dalam tekanan. Ia diisolasi dari lingkungan sosial, dilarang berkomunikasi dengan keluarga maupun teman, bahkan kehilangan kendali atas keuangannya. Uang hasil penjualan rumah dan tabungan pribadi disebut turut dikuasai oleh sang suami.

Penderitaan itu tak berhenti di situ. Saat menjalani perawatan ke psikiater, MSA didiagnosis mengalami depresi. Namun, ia mengaku tidak diizinkan mengonsumsi obat oleh suaminya. Bahkan ketika mengalami keluhan serius pada area kewanitaan, ia juga dilarang mencari pengobatan.

Hingga akhirnya pada 2025, setelah kembali bekerja dan memiliki kesempatan memeriksakan diri, MSA mendapatkan kenyataan pahit. Ia dinyatakan positif mengidap sejumlah penyakit menular seksual, termasuk sifilis dan HPV yang telah memasuki tahap pra-kanker serviks.

“Sudah masuk CIN 1, atau pra-kanker serviks,” ujarnya.

Di tengah kondisi fisik dan mental yang kian terpuruk, MSA kembali dihantam kenyataan yang lebih menyakitkan. Pada Februari 2025, anaknya akhirnya mengungkap dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh ABP saat masih berusia sekitar lima tahun.

Menurut pengakuan sang anak, tindakan tidak senonoh itu dilakukan dengan ancaman. Korban diintimidasi agar tidak menceritakan kejadian tersebut, dengan ancaman keselamatan ibunya.

“Anak saya bilang, kalau dia cerita, saya akan dibunuh,” tutur MSA, seperti dilansir dari Kumparan (11/4/26).

Pengakuan itu membuat kondisi mental MSA semakin memburuk. Ia kemudian didiagnosis mengalami depresi berat hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).(*)

Hide Ads Show Ads