Jangan Anggap Sepele, Stres pada Ayah Bisa Berdampak ke Janin
Karawang : Penelitian Universitas Colorado Anschutz menunjukkan bahwa stres yang dialami oleh seorang ayah sebelum pembuahan dapat memengaruhi pertumbuhan awal anak.
Menurut siaran Neuroscience News pada Rabu (27/5), penelitian yang dipublikasikan di jurnal iScience itu menunjukkan bahwa stres pra-pembuahan yang berkepanjangan meningkatkan molekul RNA non-coding kecil yang responsif terhadap stres yang disebut let-7f-5p dalam garis keturunan ayah.
Molekul responsif stres kecil yang ditemukan dalam sperma ini meningkat di bawah tekanan. Para peneliti mendapati molekul ini dapat membantu membentuk bagaimana embrio berkembang pada tahap paling awal, yang kemudian dapat memengaruhi pertumbuhan setelah lahir.
Temuan para peneliti menunjukkan bahwa stres sebelum pembuahan dapat memengaruhi perkembangan awal melalui sinyal biologis dalam sperma, bukan perubahan pada DNA.
Dalam penelitian pada tikus, ilmuwan meningkatkan kadar let-7f-5p pada sel telur yang telah dibuahi untuk meniru efek biologis dari stres pada ayah.
Hasilnya, anak tikus jantan yang terpapar kadar molekul lebih tinggi tumbuh lebih besar dan memiliki tulang yang lebih panjang meski pola makan mereka normal.
Penulis utama studi Tracy Bale, PhD. mengatakan, temuan ini menunjukkan bahwa sperma tidak hanya membawa informasi genetik, tetapi juga sinyal biologis yang dipengaruhi pengalaman hidup seseorang seperti stres.
"Mereka membawa informasi tentang pengalaman seorang ayah yang dapat membentuk perkembangan awal dan kesehatan jangka panjang," kata Bale, pemimpin Anschutz Foundation Endowed in Women’s Integrated Mental and Physical Health Research Ludeman Center.
Menurut penulis studi yang lain, Ketua Departemen Psikiatri Universitas Colorado Anschutz Neill Epperson, temuan ini memperkuat bukti bahwa kondisi biologis sebelum pembuahan dapat berubah mengikuti pengalaman hidup dan bisa berdampak pada perkembangan awal keturunan.
Para peneliti menyampaikan, stres yang berkepanjangan atau berulang mungkin berperan dalam perubahan biologis yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan awal anak.
"Stres berkepanjangan seperti merawat anggota keluarga yang sakit parah, bekerja di pekerjaan yang bertekanan tinggi, atau mengatasi tekanan finansial dapat meningkatkan kadar molekul ini dalam sperma. Molekul itu mungkin secara halus memengaruhi bagaimana tubuh anak berkembang sebelum lahir," Bale menjelaskan.
"Ini seperti stres seorang ayah secara diam-diam mendorong pengaturan pertumbuhan tubuh, dengan efek yang muncul kemudian dalam kehidupan," katanya.
Para peneliti menekankan pentingnya mengelola stres, cukup tidur, makan dengan baik, dan dukungan selama masa-masa sulit untuk menghadirkan kondisi biologis yang lebih sehat sebelum pembuahan.
"Penelitian ini bertujuan untuk memahami bahwa pengalaman kita dapat memiliki efek biologis," kata Bale.
"Merawat diri kita sendiri sebelum pembuahan adalah bagian penting dari perencanaan untuk memiliki anak yang sehat," ia menambahkan.
Sumber: neuroscience news
