Masyarakat Diminta Tenang,Dinkes Karawang Sebut Sampai Saat Ini Belum Ada Kasus Hantavirus
Karawang : Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karawang memastikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan adanya laporan kasus Hantavirus di wilayahnya. Meski demikian, otoritas kesehatan setempat mulai memperketat pengawasan dan pemantauan terhadap potensi penyebaran virus yang ditularkan melalui hewan pengerat tersebut.(13/5/26).
![]() |
| Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Karawang, Yayuk Sri Rahayu |
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Karawang, Yayuk Sri Rahayu, menyatakan bahwa langkah antisipasi ini diambil menyusul adanya informasi temuan kasus di wilayah lain di Jawa Barat.
"Kalau Hantavirus di Karawang, alhamdulillah tidak ada. Mudah-mudahan sampai ke depan tidak ada," ujar Yayuk, Rabu (13/5) dikutip dari KBE.
Yayuk mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kebersihan lingkungan. Ia menjelaskan bahwa Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh tikus melalui cairan tubuh seperti urin, feses, dan air liur. Selain kontak langsung, virus ini juga dapat menular melalui debu di area yang terkontaminasi kotoran tikus.
Secara klinis, Yayuk memaparkan terdapat dua tipe manifestasi virus ini, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru. Tipe HPS diwaspadai karena memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi, mencapai 60 persen, dengan gejala awal berupa demam, batuk, hingga sesak napas akut.
"HFRS gejalanya demam, nyeri kepala, nyeri badan, lemas, hingga kondisi kuning seperti Leptospirosis atau Tipus. Sedangkan HPS lebih parah fatalitasnya karena disertai sesak napas," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa masa inkubasi virus ini bervariasi, mulai dari satu hingga delapan minggu tergantung pada tipenya.
Hingga saat ini, belum ditemukan obat spesifik untuk menyembuhkan Hantavirus, sehingga penanganan medis yang diberikan faskes hanya bersifat suportif dan simptomatik untuk meredakan gejala. Oleh karena itu, diagnosis dini melalui pemeriksaan laboratorium seperti PCR atau sequencing menjadi sangat krusial bagi pasien yang menunjukkan gejala.
Sebagai langkah konkret, Dinkes Karawang telah menindaklanjuti Surat Edaran dari Kementerian Kesehatan terkait kewaspadaan dini. Fokus utama saat ini adalah melakukan pemantauan rutin terhadap kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) yang masuk ke Puskesmas maupun rumah sakit.
Yayuk menegaskan bahwa seluruh fasilitas kesehatan di Karawang sudah diinstruksikan untuk jeli melihat riwayat pasien yang datang dengan gejala flu berat.
"Kami melakukan pemantauan terus-menerus terhadap kasus ISPA atau SARI. Harapannya bukan Hanta, tapi tetap harus diperiksa lanjut melalui laboratorium untuk memastikan," tambahnya.
Selain penguatan sistem surveilans, masyarakat diajak untuk menerapkan pola hidup bersih melalui prinsip CERDIK. Hal ini meliputi cek kesehatan rutin, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres untuk menjaga imunitas tubuh agar tetap prima.
Menutup keterangannya, Yayuk meminta warga Karawang untuk segera melapor ke fasilitas kesehatan terdekat jika menemukan indikasi gejala penyakit tersebut.(*)
