Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Hari Ini Rupiah Menguat ke Rp17.790 per Dolar AS

Jakarta: Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatannya pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026. Mata uang Garuda dibuka menguat 0,12 persen ke level Rp17.848 per dolar Amerika Serikat (AS) dan terus menguat hingga mencapai Rp17.790 per dolar AS pada pukul 09.03 WIB atau terapresiasi sekitar 0,45 persen.
Rupiah Menguat ke Rp17.790 per Dolar AS

Penguatan rupiah ditopang oleh membaiknya sentimen pasar global setelah harga minyak mentah dunia mengalami penurunan. Koreksi harga minyak terjadi seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta meningkatnya optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.

Bagi Indonesia yang masih menjadi negara pengimpor bersih minyak, penurunan harga komoditas energi tersebut memberikan dampak positif. Selain mengurangi tekanan terhadap neraca transaksi berjalan, kondisi ini juga membantu meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi kenaikan inflasi akibat mahalnya biaya impor energi.

Membaiknya kondisi global turut mendorong investor kembali masuk ke aset-aset berisiko di kawasan Asia. Sejumlah mata uang regional menguat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara Asia bergerak menurun seiring meningkatnya minat investasi di kawasan tersebut.

Di antara mata uang Asia, peso Filipina mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan sekitar 1,05 persen. Rupiah berada di posisi berikutnya sebagai salah satu mata uang dengan performa terbaik di kawasan, disusul dolar Taiwan.

Penguatan mata uang Asia juga didorong ekspektasi pasar terhadap langkah sejumlah bank sentral regional yang diperkirakan akan memperketat kebijakan moneternya. Bank of Japan (BoJ), misalnya, diproyeksikan menaikkan suku bunga hingga 1,25 persen menyusul meningkatnya tekanan inflasi. Sementara itu, bank sentral Filipina juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga pinjaman overnight sebesar 50 basis poin.

Di dalam negeri, apresiasi rupiah turut didukung kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang dinilai semakin tegas dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Setelah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin dalam kurun waktu sekitar satu bulan, pasar melihat komitmen BI untuk menjaga stabilitas rupiah semakin kuat.

Ekonom UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja, memperkirakan BI masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin.

Kebijakan suku bunga yang lebih agresif dinilai mampu meredam tekanan terhadap rupiah yang sebelumnya sempat melemah hingga mendekati level Rp18.200 per dolar AS dalam perdagangan intraday pekan lalu.

Meski demikian, prospek penguatan rupiah masih akan menghadapi sejumlah tantangan dalam jangka pendek. Pelaku pasar kini menantikan hasil RDG Bank Indonesia pekan ini, termasuk keputusan suku bunga dan langkah-langkah lanjutan yang akan ditempuh bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik.(*)

Hide Ads Show Ads