Ketegangan Perang Warnai Persiapan Iran di Piala Dunia
California ;Kapten Iran Akui Tekanan Politik Mengganggu Fokus Tim Jelang Laga Perdana di Amerika Serikat.
![]() |
| Mehdi Taremi dari Iran berlatih selama sesi pelatihan, di Antalya, Turki bagian selatan, Senin, 1 Juni 2026. (Foto AP/Khalil Hamra) |
Bayang-bayang konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat menyelimuti partisipasi tim nasional Iran dalam perhelatan Piala Dunia kali ini. Di tengah situasi politik yang memanas, skuad asuhan Amir Ghalenoei mengaku harus berjuang lebih keras untuk menjaga fokus pada aspek teknis di atas lapangan hijau.
Sehari (16 Juni 2026) sebelum laga pembuka melawan Selandia Baru, kapten tim Iran, Mehdi Taremi, secara terbuka mengungkapkan dampak psikologis yang dirasakan timnya. Ia menyebut atmosfer turnamen kali ini jauh dari nuansa kegembiraan yang biasanya menyertai pesta sepak bola dunia.
"Saya merasakan ketegangan sejak momen pertama kami tiba di Piala Dunia ini," ujar Taremi melalui penerjemah, seperti dikutip dari laporan The Associated Press (AP). "Pada turnamen mana pun, ketika ada ketegangan, kami tidak mendapatkan pengalaman indah tentang kedamaian dan kegembiraan seperti yang selalu kita bicarakan." Senin, 15 Juni 2026.
Konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu telah menciptakan serangkaian hambatan logistik bagi tim Iran. Mulai dari pemindahan kamp pelatihan dari Amerika Serikat ke Tijuana, Meksiko, hingga kendala visa bagi staf delegasi dan kesulitan akses tiket bagi suporter, situasi ini dianggap telah merusak esensi olahraga sebagai alat pemersatu.
Pelatih timnas Iran, Amir Ghalenoei, mengakui bahwa kondisi luar lapangan tersebut mau tidak mau memengaruhi persiapan timnya.
"Tanpa keraguan, ini akan berdampak negatif pada semangat sepak bola," tutur Ghalenoei. "Sepak bola seharusnya menyatukan bangsa dan budaya. Kondisi ini memang telah memengaruhi fokus teknis kami, namun saya berupaya memastikan para pemain tetap berpegang pada strategi dan teknik."
Tim Iran kini menerapkan pola pergerakan yang sangat terbatas. Mereka memilih bermarkas di Meksiko dan hanya memasuki wilayah Amerika Serikat sesaat sebelum pertandingan berlangsung, untuk kemudian segera kembali setelah laga usai.
Meski diterpa berbagai kendala, Taremi menegaskan bahwa misi utama timnya tetap tidak berubah. Skuad Iran bertekad untuk menyampingkan polarisasi politik dan berfokus pada penampilan mereka di lapangan.
"Kami bermain untuk setiap warga Iran, baik di diaspora maupun di Iran," tegas penyerang berusia 33 tahun tersebut. "Orang-orang memiliki pendapat yang berbeda, namun kami hadir di sini untuk menyatukan orang-orang. Kami tidak terlibat dalam politik. Kami di sini untuk bermain sepak bola."
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Amerika Serikat dan Iran masih terlibat dalam dinamika diplomasi yang fluktuatif, menyisakan ketidakpastian bagi para atlet yang terjepit di antara kewajiban profesional dan gejolak geopolitik negara mereka.(*)
