Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

I MUST KEEP YOUR HIDAYAH……

KARAWANG,PELITA-,

OLEH :NURI AMALIA

Ini adalah percakapan Zia dan Sahdam.Dan inlah kisahnya di mulai.
“Kak Zia ternyata gadis yang kuat ya?” Ucap Sahdam yang secara tiba-tiba duduk di sampingku saat aku sedang duduk membetulkan tali sepatuku di tangga masjid sekolah.
“Kuat katamu!?” Aku terperanjat
“Kalau aku jadi kak Zia, aku pasti tak akan bisa bertahan dalam mengahadapi semuanya. Sebenarnya sekarang kak Zia telah mengalami banyak permasalahan yang berat bukan?”
Aku semakin mengerutkan keningku
“Tapi…kak Zia selalu berusaha untuk terlihat baik, terlihat mampu melakukan apapun, terlihat sempurna dan terlihat bahagia. Hasilnya, kak Zia selalu langganan juara umum disekolah ini, berprestasi dan mempunyai pergaulan yang luas. Namun jauh di dalam hati kak Zia yang terdalam, kak Zia merasa tersiksa, bahkan sangat tersiksa. Kak Zia tersiksa oleh perasaan kakak, tersiksa oleh keterpaksaan kakak untuk terlihat bahagia.”
“Aku sendiri tidak pernah berpikir seperti itu, kenapa kau bisa berkata seperti itu?”
“Tapi itu yang sebenarnya kakak rasakan!”
“Sekali lagi aku bertanya sama kamu Sahdam, kenapa kau bisa mengetahui hal tersnsitif dalam diriku?”
“Lewat matamu, bahasa mata tidak bisa berbohong kak, tidak bisa berbohong!!”
“Lalu kenapa kamu bisa mengetahuinya hanya lewat mataku?”
“Aku bisa membaca fikiran setiap orang. Kalau aku mau, aku bisa membaca lebih dalam fikiran Kakak. Mulai dari siapa orang yang kakak suka, orang yang kakak benci. PR yang harus kakak kerjakan bisa saja aku tahu. Tapi…aku membatasi diri. Aku menahan diri untuk tidak menggali pikiranmu lebih dalam, gak sopan.” Sahdam tersenyum simpul, sementara aku merasa ditampar. Karena belum pernah memikirkan dan merasakan hal ini sebelumnya.
“Ada sesuatu yang hilang dalam diri kakak.”
“Sesuatu yang hilang, apa itu?”
“Sesuatu yang hilang yang hanya kakak sendiri yang bisa menemukannya. Apabila kakak menemukan sesuatu yang hilang itu, kakak akan merasakan kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan yang sesungguhnya. Bukan kebahagiaan semu. Bukan fatamorgana semata.”
Fikiranku terhanyut dalam derasnya arus pertanyaan yang bertubi-tubi menghantam hatiku. Pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Sangat sulit.
Dihadapanku Sahdam masih duduk dengan tenang dan senyumnya masih mengembang. Aku tidak menyangka kalau juniorku di Rohis ini mempunyai kelebihan yang dia sembunyikan dengan rapat.
“Kak Zia suka curhat sama siapa?”
“Aku… belum pernah curhat pada siapapun. Karena…aku merasa bahwa semua orang mempunyai permasalahannya masing-masing. Aku tidak mau menambah beban mereka.”
“Ya, termasuk pada orang tua kakak sendiri, Kakak juga selalu menggunakan dengan rapi topeng kebahagiaan kakak yang palsu itu dihadapan mereka. Kak Zia hanya mencurahkan isi hati kakak pada diary saja. Kak Zia lebih senang menanggung semuanya sendiri. Kak Zia lebih suka menyiksa diri kakak sendiri.”
Aku mematung dengan kaku.

“Indah deh kayaknya kalau kita selalu mengadukan semua permasalahan kita dalam setiap doa yang selalu kita panjatkan setiap habis shalat, sangat, sangat indah. Ketika kita meminta langsung kepada satu-satunya tempat bermuaranya segala pertolongan yaitu Allah SWT.” Ucap Sahdam sambil berlalu meninggalkanku yang masih tenggelam dalam diam untuk merenungi semua perkataan Sahdam. Untuk mentafakuri lembaran demi lembaran segala bentuk amal yang telah kuperbuat. Meski pena pencatat amal sudah mengering dan tak dapat dirubah.
Hingga akhirnya dadaku bergolak, hatiku panas mendidih dan bibirku tak berhenti mengutuk. Tapi aku tidak tahu kepada siapa kutukanku ini kutujukan. Hingga akhirnya aku berubah marah, tapi aku tidak tahu kepada siapa aku harus marah. Aku marah, aku masih marah.

Hingga akhirnya aku sadar, bahwa aku marah karena kedua orangtuaku bercerai. Aku marah karena tidak mendapatkan sempurnanya cinta mereka. Aku marah karena sudah beberapa kali patah hati oleh cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Aku marah karena aku harus berpisah dengan orang-orang yang sangat kusayangi. Ayah angkatku, sahabatku dan kakak angkatku. Semuanya, semuanya itulah yang telah membuatku marah.
Tanpa disadari, selama ini aku telah menghujamkan pedang problematika yang tajam, yang menusuk ulu hatiku. Tapi aku tetap berjalan tertatih-tatih dengan membawa luka menganga yang membusuk dengan rasa sakit yang teramat sangat menyiksa. Lalu kubungkus luka itu dengan berjuta kepura-puraan dan topeng. Kubungkus luka menganga itu dengan kepalsuan. Kubungkus luka menganga itu dengan kebahagiaan semu. Kututupi luka menganga itu dengan tawa yang hampa.

Tapi kedua bola mata ini terlalu jujur untuk membeberkan semua dan tak berhenti berteriak tentang hakikat ada. Dimata semua orang aku ini adalah batu karang yang berdiri tegar melawan hantaman badai. Dimata mereka aku ini adalah seekor kupu-kupu indah yang bebas mengepakan sayap indahnya. Lalu terbang kemanapun aku mau. Dimata mereka aku ini adalah kobaran api yang panasnya menjalar kemana-mana. Tapi mataku menjerit keras, melolong memecahkan bisunya hatiku. Semua itu bukan aku! Bukan aku! Aku hanya ranting kering yang rapuh. Yang mudah patah bila dipatahkan. Aku hanya dedaunan kering yang bertebaran. Yang mudah terhempas oleh sapuan angin. Yang hanya bisa terbang mengikuti berlarinya arah angin.

Aku beringsut-ingsut sekarang. Beringsut-ingsut untuk mencari sesuatu yang hilang. Sambil mengais-ais harapan dan sisa –sisa mimpiku. Memulung cinta yang sebenarnya bukan cinta.

Sekarang aku tahu apa sebenarnya yang hilang dari diriku selama ini. Itu adalah hidayah. Dengan mudahnya kudapatkan hidayah ketika orang-orang di sekitarku jauh dari nila-nilai Islam. Akan tetapi di saat orang-orang di sekitarku mulai merasakan manisnya hidayah, hidayah itu malah semakin terkikis lalu sirna dariku…

Lantas bagaimana caranya agar aku bisa menemukan kembali hidayah itu, hidayah yang ternyata tidak bisa kutemukan di semua organisasi Islam yang kuikuti, yang tidak bisa kutemukan di pesantren, yang tidak bisa kutemukan di ROHIS dan yang tidak bisa kutemukan dimanapun sampai sekarang?

Aku ingin kembali menggapai hidayah Allah tanpa harus memposisikan diri dalam sekat-sekat keislaman apapun, yang selalu di gembar-gemborkan oleh para gerombolan orang yang fanatik itu. Juga para cendekiawan itu. Seperti Islam tradisional, modern, Fundamentalis, moderat dll.

Aku sudah lelah untuk tenggelam dalam pencarian tak berujung ini. I’m so tired untuk mencari kebenaran hingga membuatku terguncang dan imankupun semakin sekarat hingga untuk menemukan kebenaran yang terasa samar itu, banyak sekali ibadah yang terabaikan.

Aku sudah tidak peduli dengan cap bahwa aku taklid, ahli bid’ah. Bagiku Islam adalah Islam itu sendiri, yang mengajarkan kita untuk berserah diri dengan ke universalan ajarannya. I think… Islam adalah kepasrahan, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan. Tapi sebagai pemeluk agama Islam, aku belum menemukan semuanya itu dalam keislamanku.

Islam adalah keselamatan. Islam adalah sumber kebahagiaan, kasih sayang Islam akan menaungi seluruh umat manusia. Kenalilah Islam, cintailah…lalu amalkan dengan sepenuh hati …niscaya kita akan merasakan ketenangan dan keindahannya…

Tapi…aku merasa kalau diriku belumlah selamat. belumlah bahagia, aku belum merasakan kasih sayang Islam, aku belum mengenal Islam… .aku belum mencintai agamaku, lalu mengamalkan ajaran Islam dengan sepenuh hati …otomatis aku belum merasakan ketenangan dan keindahan Islam…

Bahkan berbagai prestasi yang kuraih. Banyaknya materi yang kumiliki, jabatan yang kududuki, organisasi yang kuikuti. Tidak bisa menjadi penawar kegersangan hatiku.
Aku kehilangan hati yang bergemuruh ketika adzan bergema, aku kehilangan derasnya airmata yang menetes di atas sajadah ketika aku shalat. Aku kehilangan senyum ikhlas yang bersumber dari hati. Aku kehilangan girah untuk berdakwah. Aku kehilangan prinsip sampai akhirnya aku prustasi hanya karena lelaki. Aku kehilangan para sahabat yang dapat mendekatkan jarakku dengan Allah…

Ketika suri tauladan sudah sulit ditemukan, ketika orang-orang fasik sudah banyak dijadikan teman, ketika amalan sunah sudah banyak di tinggalkan, ketika kegersangan hati melanda jiwa…
Apa yang harus kulakukan ??

Kadang aku mesti melesat berlari, kadang aku berjalan langkah demi langkah, kadang aku berjalan tertatih-tatih, kadang beringsut-ingsut, kadang aku merangkak dalam usaha meraih hidayah-Mu ya Allah…

Ya Allah…Please keep this Hidayah, jagalah hidayah ini. Jagalah karunia yang tak ternilai ini. Tolong hamba ya Allah…tolong hamba. Ya Rab…tak ada satupun yang hamba dambakan di dunia ini selain hidayah-Mu…Hanya hidayah-Mu, only Your hidayah. Hamba ingin terus berada dalam dekapan erat cinta dan hidayah-Mu.

Dimanakah kan kau tempatkan hamba-Mu ini? Dalam kenikmatan tak terlukiskan surga-Mu, atau dalam kepedihan tak tertahankan adzab neraka-Mu? Dimana? Dimana Ya Rab…

Harus kujaga! Harus kujaga! I must keep Your Hidayah dan tidak boleh kulepas lagi. Aku takut mengulangi semua kesalahanku lagi…
Aku takut mengulanginya lagi…
I’m afraid to repeat Your forbiddens again, I’m so afraid…
Tidak, tidak Zia. Kau tidak boleh menyerah begitu saja pada pada cengkraman keputusasaan. Bukankah kau sudah terbiasa tersiksa? Bukankah derai tangis sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupmu?
Hanya akulah sang ratu yang bebas menentukan bagaimana diriku. Aku adalah raja yang menguasai diriku sendiri. Aku punya otoritas penuh untuk menentukan siapa aku. Dan terserah aku, apakah aku akan menjadi batu karang. Menjadi kupu-kupu. Menjadi nyala api yang berkobar-kobar atau menjadi ranting dan dedaunan yang kering dan rapuh. Karena aku adalah apa yang aku fikirkan tantang diriku.
“ Nourezia Ully Kahfi, perkenalkan ini Nourezia Ully Kahfi- Orang penting, benar-benar penting. Zia, kamu pemikir besar, jadi berfikirlah besar. Berfikir besar mengenai segalanya.

Kau memiliki banyak kemampuan untuk melakukan pekerjaan kelas satu, jadi lakukanlah pekerjaan kelas satu. Zia, kamu percaya akan kebahagiaan kemajuan, keberhasilan baik itu di dunia dan di akhirat.
Jadi mulai sekarang

Berbicaralah hanya tentang kebahagiaan, berbicaralah hanya tentang kemajuan, berbicaralah hanya tentang keberhasilan.Kamu memiliki banyak pendorong Zia, banyak pendorong. Jadi manfaatkanlah pendorong itu. Tidak ada yang dapat menghentikan kamu, tak satupun Zia. Except Only Allah.Zia kamu antusias. Biarkan antusiasmu terlihat. Kamu tampak baik Zia. Dan kamu merasa baik. Tetaplah begitu. Nourezia Ully Kahfi, kamu orang hebat kemarin dan kamu akan menjadi lebih hebat hari ini. Sekarang maju terus, Zia, maju terus!!!

Kamu pintar Zia, kamu bisa menghapal Al-Qur’an dalam waktu singkat. Karena ingatanmu kuat sangat-sangat kuat.
Zia, kamu adalah orang yang paling bahagia di dunia. Karena kau bisa menciptakan kebahagiaanmu dengan caramu sendiri. Hidup bahagia adalah hak-mu. Dan kamu pasti bisa meraih kembali hidayah Allah SWT. Pasti!

Terus dan teruslah memikirkan hal ini di hatimu, di benakmu. Selalu ucapkan dengan suara yang keras setiap hari. Di depan cermin dan selalu ulangi dengan penuh tekad. Zia, bacalah dalam hati beberapa kali sehari. Bacalah sebelum menangani apapun yang menuntut keberanian. Harus kau ucapkan setiap kali kau tak bersemangat.

I think…keberhasilan datang dari pikiran yang di kelola dengan baik. Jangan terima penilaian dari orang biasa. Kamu bukan orang biasa Zia, kamu bukan orang biasa. Jualah dirimu pada dirimu sendiri./Red.

Hide Ads Show Ads