PELITA KARAWANG ON LINE-.Penanganan kemacetan lalu lintas di Jabodetabek perlu dilakukan melalui strategi multi-facet yaitu strategi di level makro (penataan ruang), level mezzo (transport demand management), dan level mikro (street level). Mengingat diperkirakan macet total akan terjadi lebih cepat di tahun 2011/2012, karena perbandingan pertumbuhan kendaraan bermotor dan pertumbuhan luas jalan sangat tidak berimbang yaitu 9% per tahun : 0.01% per tahun. Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak mengatakan dalam Seminar Nasional Infrastruktur di Kampus Univrersitas Indonesia (UI) Depok, (27/7).Lebih lanjut Wakil Menteri PU mengatakan, strategi penanganan kemacetan lalu lintas berdarkan multi-facet yang dibagi dalam tiga bagian. Pertama, level makro didasarkan pada penataan ruang yaitu berupa model compact city, transit oriented develompent, dan kawasan hunian kepadatan tinggi. Kedua, level mezo yang didasarkan pada transport demand management yaitu berupa sarana angkutan umum massal, interface antar moda, park and ride carpooling, Ride sharing, HOV. Sedangkan yang ketiga level mikro yang didasarkan pada street level yaitu antara lain berupa perbaikan simpang, flyover, pelebaran bottle neck, marka dan perambuan serta road pricing termasuk tarif parkir. Pemerintah saat ini juga sudah merintis kebijakan di tingkat pusat untuk mengatasi kemacetan antara lain dengan mengatur tata kota dengan pola pembagian kota inti dan kota satelit. Pengaturan tata ruang dan tata guna lahan itu seharusnya diseleraskan dengan kebijakan daerah dalam pembangunan prasarana jalan dan transportasi umum, imbuh Hermanto. “Pendirian kota Satelit Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok seperti BSD harus konsisten. Warga yang tinggal di kota satelit itu harus secara bertahap bekerja di kota itu jangan lagi bekerja di Kota Jakarta” kata Hemanto. Menanggapi pendapat bahwa transportasi massal lebih penting dibandingkan dengan pembangunan jalan tol, Hermanto menyatakan bahwa penambahan jaringan jalan tol di kawasan Jabodetabek tetap diperlukan untuk mendukung upaya penyebaran pertumbuhan pusat perekonomian, contohnya jalan tol Cikampek-Padalarang-Cileunyi. “Dengan keberadaan jalan tol tersebut maka arus barang dan orang lebih efisien dan lebih ekonomis dari sisi waktu dan biaya” jelas Hermanto Senada dengan Wamen PU, Rektor UI gumilar Rusliwa Soemantri mengatakan tata ruang kota yang menempatkan kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, aktivitas sosial dan pemerintahan adalah sumber dari segala persoalan pelik di kota, termasuk kemacetan lalu lintas dan banjir. Suatu tindakan yang bijaksana jika pembangunan yang berdarkan penataan ruang dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti tata guna lahan, penetapan zoning serta melakukan rencana perubahan tata ruang, hukum, sosial dan budaya kota yang adil dan manusiawi. (ant).Pusat Komunikasi Publik 270710. SUMBER:www.pu.go.id |