Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Silaturahim Membawa Petaka

IDUL Fitri merupakan momentum untuk bisa menjaga silaturahim. Orang memilih untuk bersusah-susah mudik ke kampung halaman, karena mereka ingin menjaga tali kekeluargaan dengan sanak saudara, dengan handai taulan.

    

Lebaran merupakan kesempatan bagi kita untuk saling bermaaf-maafan. Dengan bersilaturahim kita berharap bisa mendapatkan maaf. Setelah satu bulan berpuasa, kita semua memang berharap untuk bisa mendapatkan berkah dari puasa yakni meraih kefitrian kembali.

    

Sungguh merugi kalau keinginan untuk bersilaturahim gagal karena kita tidak pernah mencapainya. Apalagi kegagalan itu disebabkan oleh kesalahan kita sendiri, karena kelengahan kita sendiri.

    

Dalam seminggu terakhir sejak 3 September, tercatat 927 kecelakaan terjadi saat masyarakat mudik lebaran. Dari 927 kasus itu, 182 orang tewas, 261 luka berat, dan 497 luka ringan. Mereka yang mengalami kecelakaan itu sebagian dipastikan akhirnya tidak bisa bersilaturahim dengan sanak keluarganya.

    

Inilah yang kita katakan silaturahim membawa petaka. Dan inilah yang sebisa mungkin harus kita hindarkan. Memang kita tidak bisa menghindar dari namanya takdir. Namun tetap kita harus berikhtiar untuk menghindari kecelakaan yang kita perbuat sendiri.

    

Selain kecelakaan mudik akibat kita tidak mengindahkan faktor keselamatan, ada beberapa petaka yang seharusnya bisa kita hindarkan. Salah satunya adalah menghindari penumpukan massa tanpa pengaturan yang baik.

      

Kita tahu bahwa di Hari Idul Fitri terjadi sebuah petaka yang menyedihkan. Keinginan Presiden untuk bersilaturahim dengan masyarakat mengakibatkan seorang warga yang kebetulan penyandang tuna netra meninggal karena berdesak-desakan di depan pagar Istana Negara.

      

Silaturahim Presiden dengan warga bukan baru dilakukan tahun ini. Namun entah mengapa kali ini terdengar kabar bahwa Presiden akan memberikan uang kepada mereka yang hadir bersilaturahim di Istana Negara.

      

Informasi ini bukan hanya membuat warga datang dalam jumlah banyak, tetapi mereka berebut untuk bisa lebih dulu masuk ke dalam Istana. Ketidaksabaran ini membuat petugas keamanan menutup pagar Istana dan hanya membuka celah kecil untuk membuat warga hanya bisa satu per satu.

      

Di sinilah petaka terjadi. Kerumuman massa dalam jumlah yang besar dengan celah masuk yang kecil ditambah teriknya panas matahari serta ketidaksabaran membuat orang terdorong-dorong dan terjepit.

      

Kita tentu pernah ingat Tragedi Hillsborough di Inggris ketika penonton sepak bola saling dorong di dalam stadion. Karena ada pagar tinggi yang membatasi lapangan, mereka yang ada di bagian depan terjepit seperti dendeng. Sebanyak 96  penonton tewas dalam kejadian yang terjadi 15 April 1989.

      

Sejak kejadian yang mengenaskan di Sheffield tersebut, semua stadion di Inggris tidak boleh ada lagi yang menggunakan pagar pemisahan di lapangan. Selain itu semua stadion harus memiliki bangku dengan nomor kursi yang jelas, sehingga tidak mungkin lagi terjadi jumlah penonton yang melebihi kapasitas stadion.

      

Petaka di Istana Negara tidak akan terjadi kalau tidak ada pemberian uang kepada warga yang bersilaturahim dengan Presiden. Ketika jumlah warga membludak, maka harus dibuat jalur-jalur agar warga mau mengantre.

      

Pintu masuk ke dalam Istana Negara jangan dibuat terlalu kecil. Seharusnya seperti ketika peringatan 17 Agustus, di mana warga yang hadir ke Istana jumlahnya jauh lebih banyak, pintu masuk bisa dibuat lebih lebar. Dengan pagar tinggi Istana Negara yang kokoh seperti itu dan pintu masuk yang terlalu kecil, maka desak-desakan seperti yang terjadi di Idul Fitri kemarin bisa menimbulkan korban yang besar.

      

Pelajaran terpenting lain yang bisa kita petik dari kejadian di Hari Idul Fitri adalah perlunya memisahkan antara orang yang cacat dan orang yang normal. Di mana pun mereka yang cacat selalu mendapatkan keistimewaan, karena memang mereka tidak sempurna.

      

Korban yang meninggal dalam insiden di Istana Negara kemarin adalah penyandang tunanetra. Mereka memang bercampur baur dengan warga biasa untuk bisa masuk ke dalam Istana dan meninggal karena kelelahan dan kepanasan.

      

Kita harus menghindarkan musibah dari sebuah kegiatan yang bermaksud baik. Kita sering mendengar warga yang menjadi korban dalam pembagian sembako atau uang. Apalagi di Istana Negara tidak boleh lagi sampai terjadi petaka saat warga hendak bersilaturahim dengan Presidennya.


Hide Ads Show Ads