Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Hari Ini Rupiah Ditutup Melemah Tipis ke Terhadap AS

Jakarta: Nilai tukar rupiah belum juga menguat terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah tipis 0,01 persen atau satu poin menjadi Rp16.956 per dolar AS.

Rupiah Ditutup Melemah Tipis ke Rp16.956/Dolar AS

Pelemahan rupiah lebih lanjut agak tertahan setelah rilis Dana Moneter Internasional (IMF) yang merevisi ke atas pertumbuhan ekonomi Indonesia. “IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 dan 2027 di 5,1 persen,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa (20/1/2026).

Perkiraan itu lebih tinggi dari estimasi semula di tahun 2025 sebesar 5 persen. Revisi itu juga lebih tinggi dari perkiraan di bulan Oktober tahun lalu.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 lebih tingga 0,2 persen dan tahun 2027 lebih tinggi 0,1 persen. “Revisi ke atas ini seiring dengan prospek pertumbuhan ekonomi global tahuan 2026 yang naik menjadi 3,3 persen,” ucap Ibrahim.

Pada Oktober 2025, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 hanya 3,1 persen. IMF, lanjut Ibrahim, tidak mengulas dengan detil revisi ke atas terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Namun, secara global, ketahanan pertumbuhan ekonomi disebabkan gencarnya stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif pada tahun ini. Stimulus tersebut mengompensasi risiko tekanan akibat konflik geopolitik hingga pelemahan aktivitas perdagangan globalm

Prospek laju pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut IMF ini masih jauh lebih cepat dibanding banyak negara dalam daftar 30 negara terpilih. Perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 dan 2027 hanya tertinggal dari Filipina dan India.

Prospek pertumbuha ekonomi di Filipina 5,6 persen pada 2026 dan 5,8 persen pada 2027. Sedangkan perekonomian India diperkirakan akan tumbuh 6,4 persen pada 2026 dan 2027.

Sedangkan dari sisi ekternal, nilai tukar rupiah terhadap dolar masih dipengaruhi oleh ketegangan AS dan Eropa terkait Greenland. Selain itu dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terkait suku bunga the Fed.

“Sebagian besar analis memperkirakan the Fed akan menghentikan pelonggaran moneternya pada pertemuannya akhir bulan ini. Penyebabnya kondisi pasar tenaga kerja yang stabil, sehingga perkiraan pemangkasan suku bunga hanya 5 persen,” kata Ibrahim menutup analisisnya.(*)

Hide Ads Show Ads