Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Korsel Bantah Isu Bayar Upeti Untuk Jalur Hormuz

Seoul ; Seoul tegaskan laporan pembayaran transit energi ke Iran tidak berdasar di tengah lonjakan risiko keamanan Selat Hormuz.

Sebuah kapal tanker kimia yang sedang bersandar di terminal industri di distrik Nam-gu, Ulsan, Korea Selatan (foto: AFP)

Pemerintah Korea Selatan secara resmi membantah laporan media lokal yang mengklaim bahwa Seoul tengah mempertimbangkan pembayaran kepada Iran atas pengiriman energi yang melewati Selat Hormuz. Pihak kepresidenan menegaskan bahwa spekulasi tersebut sepenuhnya tidak berdasar.

Juru bicara kantor kepresidenan Blue House menepis laporan itu secara langsung. Sebagaimana dilaporkan oleh AFP Sabtu 4 April 2026, ia menyatakan bahwa tinjauan mengenai pembayaran tersebut "sepenuhnya tidak benar dan bukan sesuatu yang sedang dipertimbangkan."

Pernyataan tegas ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap stabilitas arus energi di Timur Tengah. Selat Hormuz kembali menjadi titik fokus ketegangan, di mana Teheran mulai mempertegas kendali langsung atas jalur pelayaran tersebut.

Para pejabat dan anggota parlemen Iran dilaporkan telah mengajukan dan dalam beberapa kasus mulai menerapkan biaya transit hingga $2 juta per kapal. Langkah ini diklaim Teheran sebagai bentuk otoritas mereka atas rute strategis tersebut. 

Parlemen Iran kini tengah memajukan kerangka hukum untuk memformalkan rezim "tol" ini, menandai pergeseran dari pembayaran ad hoc menuju struktur biaya yang sistematis.

Laporan dari Bloomberg menyebutkan bahwa operator kapal yang mencari jalur aman kini diarahkan melalui perantara yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). 

Di sana, mereka diwajibkan membayar biaya yang dimulai dari sekitar $1 per barel, dengan tren pembayaran yang beralih menggunakan mata uang Yuan atau stablecoin.

Dampak Sistemik terhadap Ekonomi Seoul

Sebagai jalur air tunggal yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas, gangguan di Hormuz berdampak instan pada pasar energi dunia. Saat ini, harga minyak mentah Brent tertahan di level $108,5 per barel.

Bagi Korea Selatan, stabilitas jalur ini adalah harga mati. Lebih dari 85% ekspor minyak mentah melalui selat tersebut ditujukan untuk pasar Asia, dengan Seoul sebagai salah satu importir utama.

Namun, ancaman bukan hanya datang dari sektor bahan bakar. Gangguan pasokan gas helium komponen kritikal tanpa substitusi untuk pendinginan produksi semikonduktor mulai mengguncang industri teknologi tinggi Korea Selatan. 

Indeks Kospi yang didominasi saham teknologi telah merosot lebih dari 16,2% sejak konflik pecah, mencerminkan kerentanan ekonomi Negeri Ginseng terhadap geopolitik di Selat Hormuz.(*)

Hide Ads Show Ads